Madness adalah ruang eksplorasi ide, musik, bisnis kreatif, dan solidaritas. Di dalamnya berkumpul anak-anak muda paling visioner dan ekspresif. Yang saya kenal baik, ada Tahmidy Lasahido, pemimpin kelompok yang karismatik, Moh. Ichsan Loulembah, pemikir kritis dan jurnalis tajam, serta Ermas Cintawan, musisi berbakat yang menjadi simbol ekspresi budaya.
Tak kalah penting, ada Mohamad Rizal Intjenae sosok yang mungkin tidak terlalu sering tampil di panggung, tapi berperan besar di balik layar.
Ia menggerakkan roda, mengatur strategi, mencari sponsor, dan memastikan semua ide menjadi nyata. Di tengah kepungan idealisme teman-temannya, Risal adalah jembatan ke dunia nyata.
Dari Madness, lahirlah proyek besar yang membekas di hati anak muda Palu sampai kini: Radio Nebula. Radio ini menjadi seperti Prambors-nya Palu menyuarakan musik, gaya hidup, dan semangat zaman. Radio Nebula bukan sekadar hiburan, ia menjadi media perubahan, memperkuat identitas anak muda Palu, dan membangun atmosfer intelektual-kultural yang hidup.
Dari komunitas ini, kemudian Rizal melangkah lebih jauh. Ia aktif di HMI sebuah organisasi ekstra kampus yang telah melahirkan banyak pemimpin nasional. Di sana ia melengkapi dirinya dengan nilai-nilai keislaman, kemoderenan, kepemimpinan kolektif, serta etika pengabdian. Tapi jalur hidupnya tetap bukan birokrasi. Risal memilih jalur politik.
Ia berlabuh di Partai Golkar, partai besar yang mengusung semangat karya kekaryaan. Sebuah semangat yang sangat cocok dengan karakter dasar Rizal yang pekerja, kreatif, dan senang membangun dari hal-hal konkret.
Di Golkar, ia menemukan ruang untuk menyalurkan energi kepemimpinannya secara lebih luas. Bagi Rizal, politik bukan sekadar arena perebutan kekuasaan, tetapi ruang pengabdian melalui karya nyata.
