salah satunya melalui debu yang dihasilkan dari aktivitas tambang,” kata Taufik.
Menurut JATAM, fakta kerusakan tambang di Palu Donggala semakin nyata. Debu tambang disebut memicu lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), terutama di wilayah Watusampu dan Buluri.
Koalisi Petisi Palu-Donggala bahkan menemukan ribuan warga diduga terserang ISPA akibat terus-menerus menghirup debu pekat dari aktivitas pertambangan.
Tak hanya kesehatan, sektor pariwisata dari Teluk Palu hingga Donggala juga disebut ikut terpukul.
Selain itu, banjir yang rutin melanda pemukiman warga diduga berkaitan dengan material lumpur dan batu dari kawasan konsesi tambang.
Di sisi lain, ancaman krisis air bersih mulai menghantui warga Buluri dan Watusampu.
Sejumlah sumber mata air warga berada sangat dekat dengan area tambang aktif.
“Kalau aktivitas tambang terus berjalan, sumber air warga sangat berpotensi terganggu,” ujar Taufik.
Melihat kondisi tersebut, JATAM mendesak Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah melakukan evaluasi total tata kelola pertambangan di pesisir Palu-Donggala.
