TERKINI
Update cepat: berita terbaru tersaji sepanjang hari.

Sepuluh Kilometer dari Markas Polisi, Zona Merah Tambang Liar Poboya tak Tersentuh

Penggunaan bahan kimia sianida untuk memisahkan emas dari batuan secara ilegal masih marak. Dampak sianida di Poboya mulai dirasakan warga sekitar.

Sungai-sungai akan tercemar, dan warga khawatir air yang mereka konsumsi sudah terkontaminasi.

“Bahan kimia berbahaya yang digunakan dalam proses perendaman itu akan mengendap dan masuk ke rantai makanan. Ini membahayakan generasi mendatang,” ujar Taufik.

Namun hingga kini, tidak ada upaya serius pemerintah untuk menghentikan aktivitas tambang illegal dan peredaran sianida dan mengatasi pencemaran yang ditimbulkan.

Dampak dari pembiaran aktivitas ini tidak kecil. Selain kerugian negara dari emas yang tidak tercatat, lingkungan Poboya juga rusak parah.

Ironisnya, lokasi PETI di Poboya berada dekat dengan markas besar kepolisian yang berjarak hanya 10 kilometer.

Namun, penindakan terhadap tambang emas ilegal di sana seperti jalan di tempat.

“Tak ada alasan untuk membiarkan aktivitas ilegal yang jelas-jelas merugikan negara ini,” kata Taufik. Ia menegaskan, jangan sampai ada proses tebang pilih dalam penegakan hukum.

Mereka juga meminta agar PT CPM bertanggung jawab atas wilayah konsesinya yang kini menjadi sarang tambang liar.

Zona merah tambang liar Poboya kini bukan hanya soal tambang emas. Ia telah menjadi simbol kelumpuhan hukum dan rapuhnya pengawasan negara di hadapan kepentingan bisnis ilegal.

Jika dibiarkan, Poboya akan terus menjadi ladang emas yang menguntungkan segelintir orang, sekaligus racun yang perlahan membunuh warganya.