Permainan dan transaksi gelap itu berawal sejak kawasan hutan lindung itu dirambah untuk ditambang secara ilegal dua tahun yang lalu. Saat itu, baru lima unit alat berat beraktifitas.
Baca Juga : Cuan Rame-Rame di Lahan Huntap
Seiring berjalanya waktu, tepatnya dibulan Oktober tahun 2021 aktifitas PETI kembali marak, tidak tanggung-tanggung 32 unit alat berat leluasa merubah hutan menjadi bopeng.
“Hari pertama alat saya kenal itu, posisi baru lima. Setelah itu, banyak lagi penambang masuk picah diangka 32 alat, posisi di bulan 10 pas waktu mendekati Penertiban kedua” katanya “Sampai penertiban kedua tinggal posisi 28, baru berkurang lagi !”
Kandungan emas dihutan produksi terbatas KPH Buol dan Tolitoli, menyilaukan mata sejumlah pemain PETI nekat menyusup masuk. Seakan direstui, para pemain PETI yang disebut-sebut berasal dari Kota Palu, Makasar, Jawa Tengah, Sulawesi Barat dan Tolitoli itu telah mendeforestasi hutan tidak kurang dari 5 hektare.
Kepada kami Sumber membeberkan sejumlah nama yang terlibat aktif melakukan PETI dikawasan KPH Buol dan Tolitoli. Ke Lima nama itu disebut-sebut melakukan aktifitas PETI dikawasan hutan lindung di Sungai Tabong dengan jumlah alat berat sebanyak 25 unit. Sementara pemain PETI dikawasan KPH sungai Labanti terdapat tiga nama dan lima unit alat berat.
Baca Juga : Tender Gagal, Buat Siapa ?
Dari sederet nama yang sudah dibeberkan sumber kepada Trilogi bersama dua media lokal di Palu, kami sepakat menyamarkan semua nama pemain PETI di Buol dan Tolitoli yang ditenggarai terhubung dengan Eman.
Diantaranya inisial DN memiliki satu unit alat berat, KD memiliki dua unit alat berat dan BTR memiliki tiga unit alat berat.
