Aspal itu belum lama dibentang. Namun retak sudah menjalar, lubang menganga, dan badan jalan mulai amblas. Kasus jalan nasional rusak di Buol ini terasa janggal, kerusakan datang terlalu cepat untuk disebut wajar.
Ruas Jalan Nasional Umu–Palele–Lokodoka–Buol yang membentang sejauh 134,97 kilometer kini memantik perhatian publik.
Paket preservasi yang dikerjakan belum genap berumur, tetapi kondisinya sudah masuk kategori rusak berat.
Baca Juga : Jalan Nasional Rusak di Buol | Siapa Bermain ?
Kerusakan tidak berdiri sendiri. Ia muncul serentak, berulang, dan merata di hampir seluruh segmen.
Lubang dalam tersebar di banyak titik. Retak kulit buaya menggerus jalur roda. Permukaan aspal terkelupas, menyisakan agregat yang tercerai.
Di beberapa lokasi, badan jalan bahkan turun, menandakan lapisan bawah tak lagi menopang beban.
Baca Juga : Kasus PT RAS Disidik-Disidik Wassalam !
Secara teknis, pola ini mengarah pada satu istilah, kegagalan konstruksi dini atau premature failure.

Paket preservasi seharusnya menjaga kualitas jalan. Namun yang terjadi di Buol justru sebaliknya. Jalan yang baru diperbaiki terlihat seperti tak pernah disentuh perawatan.
Sejumlah sumber di lapangan menyebut proyek ini sejak awal “abu-abu”. Dugaan adanya praktik akal-akalan untuk mengejar keuntungan mulai mencuat.
Indikasi “main mata” dalam pelaksanaan proyek pun tak lagi sekadar bisik-bisik.
Baca Juga : NGERI-NGERI SUAP…!
