Biasanya jika suplay air datang, tambah Mahmud, itu hanya bisa bertahan selama satu hari saja. Setelah itu, menunggu jadwal pengisian kembali selama dua hari yang dipasok oleh armada pengangkut air bersih milik BP2W Provinsi Sulteng.

Foto ; Wahyudi
Mahmud bercerita, sulitnya mendapat air sudah menjadi cerita sehari-hari warga di Desa Binangga, terlebih para penghuni Huntara. Air di Huntara Binangga selama ini semata-mata hanya mengandalkan pasokan armada tangki milik BP2W Provinsi Sulawesi Tengah dan tidak lagi mengandalkan air dari sumur suntik yang bangun oleh BWSS III sepuluh tahun lalu.
“Kami berharap agar pemerintah mendengar kami dan cepat memperbaiki mesin pompa ini agar mesin air ini bisa jalan. Kasihan kalau kita berharap terus supaly air dari mobil tangki dan itu tidak hari-hari. Sekali lagi kami berharap pemerintah agar mesin pompa air di desa kami diperbaiki“ pintanya.
Untuk merespon keluhan dari masyarakat setempat terlebih para penghuni huntara, Pemerintah Desa Binangga, sudah berupaya melaporkan permasalahan kerusakan mesin pompa air yang menyuplai kebutuhan air baku bagi 1015 kepala keluarga (KK) ini kepada pihak BWSS III, namun hingga saat ini tidak mendapat respon.
“ Jadi sekarang kan tidak difungsikan lagi, kendalanya dari mesin. Mesinya tidak bisa lagi menarik air. Makanya saya kemarin ke BWSS minta tolong bagaimana dulu diantisipasi kedepanya ini kan. Karena penduduk di huntara itu kesulitan air “ kata Sekretaris Desa Binangga, Musran yang dikonfirmasi via telfon, Kamis 20 Februari 2020.
Musran menjelaskan kerusakan pada mesin pompa air yang biasa mensuplay kebutuhan air bersih bagi 273 KK yang menghuni huntara desa Binangga, menyebabkan sebagain para penyintas mengosongkan bilik huntaranya dengan alasan air.
