Dalam Inpres Tahap I (Januari 2025), wilayah Sulawesi Tengah belum masuk prioritas nasional.
Namun, pada Tahap II dan III, Sigi berhasil menembus daftar prioritas dan langsung menjadi kabupaten dengan usulan terbanyak.
Dalam Tahap II, dari 31 usulan, hanya satu proyek yang disetujui, yakni D.I Kamarora. Pada Tahap III, dari 30 usulan, 17 disetujui dan kini telah memasuki tahap awal pelaksanaan.
Langkah cepat ini menunjukkan komitmen pemerintah daerah yang sejak Februari 2025 telah menyiapkan seluruh dokumen teknis dan administratif.
Pemerintahan Bupati Rizal Intjenae dan Wakil Bupati Samuel Yansen Pongi menjadikan sektor pertanian sebagai prioritas utama pembangunan daerah.
Fokus utama Inpres 2025 irigasi Sigi adalah ketahanan pangan berkelanjutan. Pemerintah berupaya memastikan ketersediaan air bagi lahan pertanian sepanjang tahun agar produktivitas meningkat dan ketergantungan impor beras bisa ditekan. Zainal menyebutkan, kerja kolaboratif menjadi kunci.
“Kami membutuhkan sinergi dari pemerintah kecamatan, desa, hingga kelompok tani. Semuanya harus bergerak bersama,” katanya.
Ia menambahkan, masyarakat diharapkan turut mendukung pelaksanaan proyek ini agar selesai tepat waktu dan tepat sasaran.
Program Inpres irigasi Sigi 2025 bukan hanya pembangunan fisik saluran air, tetapi bagian dari upaya panjang menuju kemandirian pangan nasional.
Dengan alokasi 31 titik rehabilitasi, kolaborasi antarinstansi, dan keterlibatan masyarakat, Kabupaten Sigi diharapkan menjadi model keberhasilan program Inpres irigasi Sulawesi Tengah.
Jika seluruh rencana berjalan sesuai target, Sigi bisa menjadi contoh nyata bagaimana kebijakan irigasi mampu memperkuat fondasi ketahanan pangan irigasi Sigi, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi lokal berbasis pertanian.
