Namun bisa dibilang penampakanya, sungguh sangat biasa-biasa saja. Disinilah publik bertanya-tanya, bagaimana mungkin Flyover sepanjang 900 meter seharga hampir 100 Miliar ?.
Celakanya sebagian kondisi bangunan oprit Flyover Pantoloan mengalami keretakan cukup parah dan badan jalan retak serta mengalami penurunan.
“Ya beginilah keadaanya belum lama dikerjakan, tapi sudah rusak” cetus Iwan, kepada Trilogi.
Faktanya dilapangan, bangunan Flyover dan sarana pendkungnya yang belum lama dikerjakan ini, memang sudah diresmikan. Namun kondisinya sudah rusak disana-sini, padahal umurnya juga baru genap setahun.
Baca Juga : SUAP BUPATI & KEJAHATAN KORPORASI
Sarana pendukung lainya seperti Guard Rail atau besi pagar pengaman jalan yang digarap oleh kontraktor PT Pacifik Nusa Indah ini, juga sudah copot disana-sini. Pihak Pemerintah Sulawesi Tengah dan Kota Palu, tentu saja menyambut baik-baik bantuan Flyover gratis ini.
Meski begitu, mereka juga takjub dengan nilai proyek yang fantastis ini. Nilai proyek Flayover bahkan bisa dipakai untuk memperbaiki jalan rusak dana memilahara jembatan misalnya jalan menuju Pape – Tindatana (BTS Sulsel) yang kurang terjamah.
Alih-alih diperbaiki jalan rusak, malah dibangun Flyover dengan biaya mahal !.
Terlihat seperti ini adanya pembangunan Flyover Pantoloan mewah yang dibangun oleh Direktorat Jendral (Ditjen) Bina Marga Kementrian PUPR melalui BPJN Sulawesi Tengah dengan menggunakan APBN 2019-2020 lalu, dengan anggaran sangat fantastis sebesar Rp85 Miliar yang berada di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).
Atas nama untuk memulihkan infrastruktur pascabencana dan mendukung konektivitas di KEK Kota Palu, BPJN Sulteng mengalokasikan anggaran hanya demi Flyover.
Sementara diluar sana, ada puluhan jembatan dan dan ratusan kilometer jalan masih banyak rusak berat yang kini menunggu untuk diperbaiki. Sungguh ironis !.
