Gagal Bangunan Proyek Jumbo Flyover Pantoloan

  • Bagikan

Kerusakan yang terjadi pada bagian kontruksi Flyover Pantoloan, di Kota Palu memperlihatkan adanya kesembronoan dalam proses pembangunanya. Perlu diselidiki penyebab terjadinya kerusakan dibekas proyek senilai Rp85 Miliar itu.

Petaka tidak akan terjadi bila urusan pengerjaan dan pengawasan proyek, dilakukan secara cermat !. Rugi Berlipat Flyover Pantoloan.

Proyek selesai digarap, lalu baru saja diresmikan pada 27 Mei 2021 silam, bahkan kini sudah banyak dilintasi oleh publik, akan tetapi bagian oprit dan sarana pendukung di Flyover Pantoloan ini sudah rusak duluan.

Baca Juga : Tender Bermasalah Proyek Preservasi

Kerusakan akibat gagal menahan beban tinggi adalah salah satu contoh bahwa suatu proyek bisa disebut “Gagal Bangun”.

Ada sejumlah penyebab atas gagal bangunan yang dikerjakan oleh kontraktor PT Pacifik Nusa Indah ini, salah satu peluang penyebab terjadinya gagal bangun itu ditenggarai adalah dikerjakan secara terburu-buru dan ada indkasi permainan bestek.

Dua sisi oprit bagian utara Flayover mengalami keretakan cukup parah akibat tidak mampu menahan beban tinggi kendaraan sehingga terjadi penurunan pada bagian badan jalan yang sudah menggerus keuangan Negara senilai Rp85.051.547.900 itu.

“Kalau yang retak ini sudah lama pak !. Mungkin karena campuran beton atau timbunannya kurang padat sehingga jadi begini. Coba dilihat dibagian jalan diatas ada yang taturun itu pak” kata Iwan salah satu sopir Container yang ditemui dilokasi Flyover Pantoloan belum lama ini.

Baca Juga : Janggal Proyek Perabot Olahan Pangan

Setidaknya itu yang bisa dilihat dibekas proyek Pembangunan Flyover Pantoloan sepanjang 900 meter yang dikelolah oleh Satker PJN wilayah II Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Sulawesi Tengah ini.

Pendanaan proyek berasal dari APBN pada tahun anggaran 2019-2020. Anggaran yang dialokasikan dengan total pagu sebesar Rp94 Miliar untuk bangunan Flyover sepanjang 900 meter beserta perangkatnya, cukup fantastis memang !.

Namun bisa dibilang penampakanya, sungguh sangat biasa-biasa saja. Disinilah publik bertanya-tanya, bagaimana mungkin Flyover sepanjang 900 meter seharga hampir 100 Miliar ?.

Celakanya sebagian kondisi bangunan oprit Flyover Pantoloan mengalami keretakan cukup parah dan badan jalan retak serta mengalami penurunan.

“Ya beginilah keadaanya belum lama dikerjakan, tapi sudah rusak” cetus Iwan, kepada Trilogi.

Faktanya dilapangan, bangunan Flyover dan sarana pendkungnya yang belum lama dikerjakan ini, memang sudah diresmikan. Namun kondisinya sudah rusak disana-sini, padahal umurnya juga baru genap setahun.

Baca Juga : SUAP BUPATI & KEJAHATAN KORPORASI

Sarana pendukung lainya seperti Guard Rail atau besi pagar pengaman jalan yang digarap oleh kontraktor PT Pacifik Nusa Indah ini, juga sudah copot disana-sini. Pihak Pemerintah Sulawesi Tengah dan Kota Palu, tentu saja menyambut baik-baik bantuan Flyover gratis ini.

Meski begitu, mereka juga takjub dengan nilai proyek yang fantastis ini. Nilai proyek Flayover bahkan bisa dipakai untuk memperbaiki jalan rusak dana memilahara jembatan misalnya jalan menuju Pape – Tindatana (BTS Sulsel) yang kurang terjamah.

Alih-alih diperbaiki jalan rusak, malah dibangun Flyover dengan biaya mahal !.

Terlihat seperti ini adanya pembangunan Flyover Pantoloan mewah yang dibangun oleh Direktorat Jendral (Ditjen) Bina Marga Kementrian PUPR melalui BPJN Sulawesi Tengah dengan menggunakan APBN 2019-2020 lalu, dengan anggaran sangat fantastis sebesar Rp85 Miliar yang berada di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).

Atas nama untuk memulihkan infrastruktur pascabencana dan mendukung konektivitas di KEK Kota Palu, BPJN Sulteng mengalokasikan anggaran hanya demi Flyover.

Sementara diluar sana, ada puluhan jembatan dan dan ratusan kilometer jalan masih banyak rusak berat yang kini menunggu untuk diperbaiki. Sungguh ironis !.

Baca Juga : Penyelendup Asing di Pelupuk Mata

Sementara itu Kepala BPJN Sulawesi Tengah, Muh Syukur yang dikonfirmasi Trilogi melalui pesan whatsap, sayangnya tidak digubris dan terkesan mengunci mulut. Dari menutup akses rapat-rapat hingga berserah kepada tuhan.

Padahal, dalam struktur birokrasi ini, dialah seorang pucuk pimpinan tertinggi di BPJN Sulteng yang bertanggung jawab dalam menangani proyek pembangunan jalan dan jembatan di Sulawesi Tengah, salah satunya Flyover Pantoloan.

Sampai berita ini diterbitkan, bekas Kasatker PJN wilayah 1 ini masih menutup diri untuk tidak mau dikonfirmasi soal adanya indikasi gagal bangunan yang terjadi di Flyover Pantoloan.

Dari bisik-bisik yang beredar yang diterima Trilogi, di proyek ini katanya sudah dilaporkan dan sudah dilakukan pengusutan oleh pihak institusi yang terkait.

Proyek Flyover Pantoloan dengan anggaran fantastis di bangun ditengah situasi pemulihan ekonomi pascabencana ini, jelas mencedrai rasa keadilan publik.

Sudah sepatutnya pihak penegak hukum segera mengusut indikasi kesalahan di proyek senilai Rp85 Miliar ini.

Ditengah kondisi rakyat Kota Palu serba susah, sudah dapat dipastikan masih ada saja oknum-oknum bermain spek dalam pengerjaan proyek Flyover untuk meraup untung berlipat.

Tidak sepatutnya, kita memberi ruang bagi oknum penggarong anggaran publik ini.

Kita tunggu kabar selanjutnya..

  • Bagikan
error: Content is protected !!