Bagi Ade Kezia sebaliknya, dia lebih suka dengan materi Lian Gogali tentang membangun tim.
“Kita belajar bagaimana tips membuat gerakan sosial, cara mengkomunikasikan agar gerakan itu bisa terbentuk dan bermanfaat bagi masyarakat. Dalam materi itu, saya merasa tertantang untuk mengomunikasikan ide dan gerakan saya.” tuturnya.
Tiga hari sudah gen-Z mengasah soft skills dan hard skills. Kini, waktunya mengaplikasikan materi-materi yang sudah didapatkan ke dalam sebuah konten narasi damai.
Sebagai modal membuat kontan, para peserta mendapatkan materi strategi membuat konten narasi damai di media sosial, yang dibawakan oleh Milastri Muzakkar. Selain itu, peserta juga dibekali materi teknis mendesign dan membuat video oleh Ufaira Nabila.
Inilah titik puncak dari semua materi di hari sebelumnya karena gen-Z akan melaksanakan misi menyebarkan pesan damai di media sosial maupun lingkungan sekitar. Dan seperti yang diduga, gen-Z sangat bersemangat mengikuti materi dan mencoba mempraktekkannya.
Menariknya, tak hanya mendengarkan materi dari trainer saja, setiap sesi kelas selalu mengajak peserta untuk berdiskusi kelompok di dalam “breakout room”.
Di sesi ini, ide-ide segar dan pengalaman para Gen-Z dalam isu perdamaian cukup tereksplor. Waktu diskusi kelompok selalu tak cukup, saking semangat dan senangnya mereka berdiskusi dengan teman sebanyanya.
Kelas Literasi Damai meninggalkan pengalaman yang tak terlupakan bagi gen-Z Sulawesi dan Maluku. Hal ini disampaikan oleh banyak peserta. Meski kegiatannya online, baik trainer, panitia dan peserta saling mengirimkan energi positif yang membuat kelas menjadi seru.
Tapi, mengutip kata Anisa, salah satu peserta, “kegiatan ini seru banget walaupun online, akan lebih seru lagi kalau offline namun terkendala covid, jadi sayang banget.”
