Mantan PPK 13 Ruas Pagimana – Batui ini mengatakan, untuk permasalahan kondisi jalan rusak berat sepanjang empat kilometer itu, pihak BPJN XIV Palu telah mendatangkan tim ahli geologis Kementrian PUPR untuk meniliti kondisi tanah sepanjang empat kilometer yang dijadikan jalur nasional yang saat ini kondisinya rusak parah. Dengan adanya tim itu nantinya agar usulan untuk penanganan efektif tahun depan bisa terlaksana.
“Sekarang ini kan tim dari Jakarta sudah berapa kali turun kesana, janji program itu tahun depan penanganan jalur efektif, tidak sekadar rutin seperti penanganan seperti saat ini.
Sekarang ini kami hanya holding untuk menjaga kondisi jalan jangan sampai rusak. Konndisi kemarin itu kan sudah mulai parah waktu kita mulai bencana kemarin. Preservasi itu kan rutin jika kita membahasakan pekerjaan rutin,” jelasnya.
Sementara itu di pihak kontraktor pelaksana PT Karya Anuntolufu yang menangani kegiatan Preservasi jalan Bungku – Bahodopi – Bts Sultra TA 2019 dengan nilai kontrak Rp 34 miliar lebih itu, memilih enggan berkomentar banyak soal paket yang ditanganinya saat ini yang banyak rusak parah. Meskipun diketahui sejak tahun sebelumnya perusahaan tersebut, gonta-ganti untuk menangani proyek jalan di BPJN XIV Palu melalui Satker PJN wilayah III di sepanjang ruas ini.
“Kamu konfirmasi saja ke PPK, karena mereka tau klu saya kerja tidak bagus klu itu pekerjaan saya pasti ada surat teguran,” Singkat Siti Ramadhan, yang juga direktur utama PT Surya Baru Cemerlang (SBC), melalui pesan elektronik kepada Koran Triloigi.
Jalan nasional sesuai Kepmen PUPR 248/KTSP/M/2015, ruas jalan di Provinsi Sulawesi Tengah yang menjadi tanggung jawab di Satker PJN wilayah III untuk ruas Bungku – Bahodopi – Bts Sultra sepanjang 108 kilometer yang meliputi Bungku – Bahodopi 42 kilometer dan Bahodopi – Bts Sultra 66 kilometer. Ruas ini digembar-gemborkan bakal mulus pada tahun 2019 ini. Celakanya dengan pengucuran anggaran APBN yang melaju deras tidak sebanding dengan kondisi jalan saat ini menuju batas kendari, hal ini jelas mencerminkan betapa kusut pengelolaan preservasi penanganan jalan Bungku hingga batas Sultra dibawah naungan kendali BPJN XIV Palu itu.

Jalan berlubang dan Ambelas menuju batas Sultra memperlihatkan adanya kesembronoan dalam proses pelaksanaan jalan oleh kontraktor ketika itu. Petaka ini tidak akan terjadi bila urusan pengawasan proyek dilakukan dengan cermat, kealpaan pemantauan menyebabkan pekerjaan jalan yang telah menyedot anggaran ratusan miliar itu membuat berbagai pihak saling lempar tanggungjawab. Pengusutan tuntas perlu dilakukan supaya tidak ada yang “Cuci Tangan” dalam hajatan proyek yang sudah menyedot anggaran puluhan miliar ini.
Baru-baru ini sejumlah Pengendara yang melintasi jalan tersebut mengeluh dengan kondisi jalan yang dianggap mengancam keselamatan jiwa. Mereka menuntut pemerintah pusat segera memperbaiki kerusakan jalan itu supaya kecelakaan lalu lintas akibat kondisi jalan yang rusak itu dapat dihindari. Apalagi banyak jalan yang berlubang, ambelas dan kondisi licin dan menanjak itu dalam beberapa bulan terakhir menjadi pemicu terjadinya kecelakaan lalulintas.
“Waktu saya ke kendari, ada satu unit mobil kijang Inova warna hitam masuk jurang, katanya sih selamat semua penumpangnya. Kejadian itu, mengingatkan kembali dengan mobil box saya yang juga terbalik dijalur ini karena kondisi jalan licin dan menanjak. Waktu itu mobil saya muat barang cat dari Palu mau ke kendari.” Kata Dicky Yuliady, kepada Koran Trilogi.
Kondisi jalan seperti itu, kata Dicky Yuliady, sangat mengganggu aktivitas warga, baik yang melintasi dari ibu Kota Morowali ke Kendari, begitu pun sebaliknya. Sudah sering juga pengendara baik roda dua maupun roda empat terjadi kecelakaan tunggal setelah melintasi jalur tersebut, dijalur ini banyak orang mengistilahkan sebagai jalur janda.
