“Monopoli harga ini menjadi penghalang utama bagi petani untuk meningkatkan produksi dan kualitas hasil pertanian mereka. Bahkan, dalam beberapa kasus, petani yang mencoba menjual hasil panennya kepada pengepul lain diancam tidak akan diberikan modal lagi oleh tengkulak, membuat mereka terjebak dalam siklus yang merugikan” bebernya.
Dalam momentum peringatan hari kemerdekaan ini, tambah Ruly, mestinya yang seharusnya menjadi refleksi atas pencapaian bangsa, masalah yang dihadapi petani Sulawesi Tengah ini menjadi sorotan utama.
Garda Tani Sulawesi Tengah mengharapkan pemerintah daerah, baik yang sedang menjabat maupun calon kepala daerah dalam pilkada 2024, untuk memberikan perhatian serius terhadap permasalahan ini.
“Janji politik tentang pembangunan lumbung pangan dan pemberian asuransi pertanian yang pernah dilontarkan masih belum dirasakan dampaknya oleh petani. Oleh karena itu, Garda Tani siap berkolaborasi dalam merumuskan kebijakan yang tepat untuk menyelesaikan permasalahan ini demi mewujudkan kemakmuran dan kesejahteraan petani di Sulawesi Tengah” harapnya.
Dalam siaran pers itu juga disebutkan bahwa perjuangan petani untuk mencapai kesejahteraan dan kedaulatan ekonomi tidaklah mudah.
Baca Juga : Longki ‘Turun Gunung’ | Hidayat Kunci Tim Perumus Strategi Pemenangan Ahamd Ali di Pilkada Sulteng 2024
“Namun, senyum petani adalah cerminan dari kemerdekaan yang sesungguhnya. Kami akan terus berjuang demi senyum itu, demi kemerdekaan yang hakiki,” tegasnya.
Perjalanan panjang menuju kesejahteraan bagi petani Sulawesi Tengah masih jauh dari kata usai. Dalam peringatan 79 tahun kemerdekaan Republik Indonesia ini, sudah sepatutnya semua pihak merenungkan kembali makna dari kemerdekaan itu sendiri.
Bukan sekadar bebas dari penjajahan fisik, tetapi juga dari penjajahan ekonomi yang masih menghantui petani di pelosok negeri.
Tiga poin penting yang disampaikan Garda Tani Sulawesi Tengah seharusnya menjadi perhatian utama bagi para pengambil kebijakan, untuk benar-benar mewujudkan janji kemerdekaan yang menyentuh seluruh lapisan masyarakat, terutama mereka yang menggarap tanah untuk hidup.
Momentum kemerdekaan ini bukan hanya milik segelintir orang, melainkan milik seluruh rakyat Indonesia, termasuk petani di Sulawesi Tengah yang terus berjuang demi kesejahteraan yang belum kunjung datang.
