Tidak jarang, petani akhirnya menjadi buruh di lahan mereka sendiri, sebuah ironi di tengah kemerdekaan yang seharusnya menjanjikan kemandirian dan kesejahteraan.
Menurut Ruly, di sektor produksi, keterbatasan akses terhadap sarana pertanian bersubsidi juga menjadi momok bagi petani.
Pupuk bersubsidi yang tidak mencukupi kebutuhan menjadi kendala utama.
Baca Juga : TERPOPULER | Anwar Hafid Calon Gubernur Sulawesi Tengah : Program BERANI Memicu Harapan Baru !
Distribusi yang hanya mencapai pusat kecamatan tanpa menjangkau desa-desa menyebabkan ketergantungan petani pada tengkulak semakin tinggi.
“Tengkulak yang berperan sebagai fasilitator untuk pembiayaan dan distribusi pupuk ini, tentu saja, mengambil keuntungan lebih dari kondisi tersebut” ujarnya.
Hal ini, kata Ruly, akan semakin memperparah posisi tawar petani yang sudah terikat oleh jerat hutang.
Dengan sarana produksi yang terbatas dan akses yang sulit, petani Sulawesi Tengah seperti dipaksa berjalan di tempat dalam usaha mereka untuk meningkatkan produksi dan, pada akhirnya, kesejahteraan mereka.
Ruly membeberkan masalah lain yang tak kalah penting adalah rendahnya harga komoditas pertanian yang dibeli oleh tengkulak.
Dalam kondisi terikat hutang, petani tidak memiliki pilihan selain menjual hasil panen mereka kepada tengkulak dengan harga yang ditentukan sepihak.
Baca Juga : Drama Politik Merebut Kursi Sulteng 1 | Rusdi Mastura di Ambang Kemenangan atau Kekalahan ?
