Hal ini juga dikuatkan dengan adanya dugaan bahwa fenomena rendahnya partisipasi pemilih ini bukan hanya akibat kurangnya sosialisasi, tetapi bisa jadi merupakan bagian dari sebuah skenario tertentu.
Hengky Idrus, Tim Relawan BerAmal yang di sadur dari Kabarselebes, menyatakan, “Kami menduga ada sebuah skenario besar yang mempengaruhi masifnya warga yang tidak menggunakan hak pilih mereka.”
Dugaan ini semakin diperkuat dengan data yang menunjukkan adanya penurunan signifikan dalam partisipasi pemilih di hampir seluruh kabupaten di Sulawesi Tengah, kecuali di beberapa daerah seperti Buol, Banggai Kepulauan, dan Banggai Laut, yang masih mencatatkan partisipasi lebih dari 80%.
Kritik tajam juga datang dari berbagai pihak terkait kurangnya sosialisasi aturan baru oleh KPU.
“Pilkada seharusnya menjadi pesta demokrasi untuk semua warga, bukan malah menimbulkan kekecewaan akibat kurangnya komunikasi,” ujar seorang pemerhati politik di Palu.
Penurunan partisipasi ini dapat mempengaruhi legitimasi hasil Pilkada dan mengurangi kepercayaan publik terhadap pemerintahan yang terbentuk.
Penting bagi KPU dan pihak terkait untuk mengevaluasi penyelenggaraan Pilkada 2024 ini. Dengan adanya sisa kertas suara yang signifikan di banyak TPS, ini adalah sinyal penting untuk memastikan proses demokrasi yang lebih inklusif di masa depan.
“Demokrasi bukan hanya soal memilih, tapi memastikan setiap suara memiliki arti dan dapat memberikan dampak,” ujar Revi, seorang aktivis pemuda.
