Sebelumnya, Direktur PT KLS Sulianti Murad bersama Asisten Direktur Ferdinand Magaline menegaskan bahwa operasional perusahaan dijalankan dengan orientasi mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat sekitar.
Dalam keterangan tertulis, manajemen menjelaskan bahwa PT KLS beroperasi di Kabupaten Morowali Utara, tepatnya di Kecamatan Mamosalato dan Kecamatan Bungku Utara.
Di wilayah tersebut, perusahaan telah membangun kebun plasma untuk masyarakat seluas 1.934 hektare di Kecamatan Mamosalato dan 913 hektare di Kecamatan Bungku Utara.
Program ini menjadi bagian dari tanggung jawab sosial PT Kurnia Luwuk Sejati dalam memperkuat ekonomi berbasis kemitraan.
“Dampak ekonomi yang paling terasa adalah peningkatan pendapatan masyarakat melalui hasil TBS yang dibeli oleh PT KLS,” tulis manajemen.
Rata-rata pembelian TBS dari masyarakat mencapai Rp5 miliar per bulan dan dibayarkan secara tunai melalui perbankan, menciptakan kepastian arus kas bagi petani.
Komitmen sosial perusahaan juga diwujudkan melalui pembangunan rumah ibadah berupa masjid, pemberian CSR kebun kelapa sawit untuk pondok pesantren, hingga program lingkungan.
Salah satu inisiatif terbaru adalah pengembangan penangkaran burung maleo di Batui, sebagai upaya menjaga kelestarian satwa endemik Sulawesi sekaligus memberdayakan masyarakat sekitar.
Dengan rekam jejak investasi, kontribusi fiskal, dan program pemberdayaan yang berkelanjutan, kiprah PT Kurnia Luwuk Sejati di Sulawesi Tengah menegaskan posisi perusahaan sebagai salah satu aktor penting dalam industri sawit regional.
Di tengah tantangan global sektor perkebunan, peran strategis perusahaan ini menjadi contoh bagaimana bisnis sawit dapat berjalan seiring dengan pembangunan ekonomi dan sosial daerah.
