“Saya dengan keluarga sudah capek dan bosan tinggal di tenda pengungsian ini. Mana belum ada kejelasan dari pemerintah soal kapan kami pindah ke huntara,” ujar salah satu pengungsi Yulista mengeluhkannya.
Dia dan keluarga yang kehilangan tempat tinggal akibat likuefaksi di kawasan Perumahan Nasional (Perumnas) Balaroa itu tidak bisa menyembunyikan kesedihannya merayakan hari raya Idul Fitri bersama keluarga di tenda pengungsian.

Foto: Moh. Hamzah
“Kalau bapak ibu mau tau bagaimana rasanya tinggal sembilan bulan lamanya di tenda pengungsi. Kemari saja. Rasakan sendiri tidur tidak lelap, malam kedinginan dan kalau siang hari panasnya minta ampun,” katanya.
Meski demikian, dia bersyukur masih dapat merayakan Lebaran dengan sanak keluarga dan saudara meski duka pada 28 September 2018 belum bisa hilang dari ingatannya.
Penulis : Wahyudi / Trilogi.co.id
