KESEDIHAN KORBAN LIKUEFAKSI BALAROA SHOLAT IED di TENDA

  • Bagikan

Para pengungsi bencana gempa, dan likuefaksi di Kota Palu, Sulawesi Tengah tidak bisa menyembunyikan kesedihannya merayakan Lebaran Tahun 2019 di tenda-tenda pengungsian.

Mereka ada yang kehilangan tempat tinggal, harta benda dan sanak saudara, bahkan mengalami ketiga-tiganya saat bencana 28 September 2018 itu terjadi.

Ziarah dilokasi Liquefaksi Balaroa.
Foto : Moh. Hamzah

Para pengungsi dan anggota keluarga tampak berderai air mata saat berjabat salam saling memaafkan usai mengikuti ibadah Shalat Idul Fitri (Ied), salah satunya pengungsi di kawasan pengungsian Kelurahan Balaroa.

Ratusan pengungsi yang telah tinggal sembilan bulan lamanya di tenda-tenda pengungsian tersebut tampak bersemangat mengikuti Shalat Ied yang kali ini dilaksanakan di lokasi mushola camp pengungsian Balaroa.

Ziarah dilokasi Liquefaksi Balaroa.
Foto : Moh. Hamzah

“Sedih pasti. Kalau tahun kemarin Lebaran di rumah. Sekarang berlebaran di sini (tenda pengungsian),” kata salah satu pengungsi, Fitri.

Meski begitu, ia mengaku tetap tabah dan sabar menghadapi kenyataan pahit yang juga dirasakan ratusan kepala keluarga (KK) yang tinggal di sana.

“Semoga kami bisa segera pindah di huntara (hunian sementara). Sebagian sudah pindah. Sisanya kurang tahu bagaimana. Katanya habis Lebaran ini,” ujarnya lagi.

Dia berharap janji-janji yang disampaikan baik oleh pemerintah pusat dan pemerintah daerah mengenai kepastian dirinya dan pengungsi lainnya menempati huntara dalam waktu dekat ini bukan hanya isapan jempol belaka.

Selain itu, sebagian pengungsi penyintas bencana likuefaksi di kawasan pengungsian terpadu Sport Center Kelurahan Balaroa juga berharap demikian.

“Saya dengan keluarga sudah capek dan bosan tinggal di tenda pengungsian ini. Mana belum ada kejelasan dari pemerintah soal kapan kami pindah ke huntara,” ujar salah satu pengungsi Yulista mengeluhkannya.

Dia dan keluarga yang kehilangan tempat tinggal akibat likuefaksi di kawasan Perumahan Nasional (Perumnas) Balaroa itu tidak bisa menyembunyikan kesedihannya merayakan hari raya Idul Fitri bersama keluarga di tenda pengungsian.

Ziarah dilokasi Liquefaksi Balaroa.
Foto: Moh. Hamzah

“Kalau bapak ibu mau tau bagaimana rasanya tinggal sembilan bulan lamanya di tenda pengungsi. Kemari saja. Rasakan sendiri tidur tidak lelap, malam kedinginan dan kalau siang hari panasnya minta ampun,” katanya.

Meski demikian, dia bersyukur masih dapat merayakan Lebaran dengan sanak keluarga dan saudara meski duka pada 28 September 2018 belum bisa hilang dari ingatannya.

Penulis : Wahyudi / Trilogi.co.id

  • Bagikan
error: Content is protected !!