Paradigma itu, lanjut dia, harus berada pada tujuan yang sama, yaitu melahirkan pemimpin yang dapat menerobos batas, mampu melihat di balik bukit dan berpikir multi dimensi.
“Kita tidak lagi sekedar hanya memilih pemimpin yang memiliki populeritas dan kekuatan materi, tetapi harus memiliki konsep dan arah yang jelas dalam rangka menjadikan Sulteng hebat, menuju Indonesia Hebat 2045” kata Misran, Sabtu 6 Juli 2019.
Melihat gagasan yang telah diaplikasikan oleh figur Hasanuddin Atjo, kata Misran, tentunya untuk membangun ekonomi Sulteng diberbagai aspek, perlu diapresiasi. Termasuk ide membangun Tol Tambu Kasimbar menghubungkan poros Kabupaten Donggala berada di Pantai Barat dan Kabupaten Parimo di wilayah Pantai Timur.
Gagasan itu sebagai upaya mengintegrasikan roda transportasi laut dan darat dalam rangka memperlancar transportasi komoditi dari Wilayah Timur untuk dikirim keluar Pulau Sulawesi. Hal ini patut diapresiasi, karena hal tersebut merupakan suatu gagasan yang inovatif termasuk didalamnya ada pemikiran pemekaran untuk wilayah Sulawesi Timur.
“Bagi saya Sulteng di era milenia industri 4.0. menuju Indonesia Hebat 2045 membutuhkan seorang Leader yang konseptual, dan juga mampu menggerakkan energi, aksi, dan konsistensi untuk menciptakan perubahan sekaligus memenangkannya dan itu ada dalam pemikiran Hasanuddin Atjo sebagai birokrat interpreneur” Jelas Misran Lawani sembari menambahkan ada tiga prinsip penting sebagai arahan bagi seorang Leader 4.0, jika merujuk kepada pepatah ilmiah Oxford Leadership, Yakni Mindsets Not Skillets, Focus On What Works, dan Prioritize Differently.
Penulis : Elkana L / Koran Trilogi
