Mengutip dari keterangan Dr. Harun Al Rasyid, seorang ahli paru di RSUD Undata Palu yang di publis oleh Portal Sulawesi menjelaskan bahwa paparan debu dalam jangka panjang dapat menyebabkan gangguan pernapasan seperti bronkitis kronis dan bahkan asma.
“Anak-anak dan lansia adalah kelompok yang paling rentan,” tegasnya.
Sementara itu, penelitian terbaru yang dilakukan oleh Lembaga Penelitian dan Pengembangan Masyarakat (LPPM) Universitas Tadulako menunjukkan bahwa kadar partikel debu di daerah ini telah melampaui batas aman yang ditetapkan oleh WHO.
“Konsentrasi PM2.5 dan PM10 di udara sudah mencapai tingkat yang membahayakan kesehatan,” ungkap Dr. Syahrul Hamzah, kepala tim peneliti.
Sumber utama debu tersebut adalah truk-truk besar yang lalu lalang mengangkut material konstruksi untuk pembangunan IKN. Proyek ambisius pemerintah ini memang membawa harapan baru bagi perekonomian, tetapi di sisi lain, pengelolaan dampaknya masih jauh dari memadai.
“Tidak ada upaya signifikan untuk menekan debu. Jalan tidak disiram dan truk tidak ditutup rapat,” keluh Jamaludin, seorang sopir angkutan umum.
Jalan Palu-Donggala kini menjadi saksi bisu dari dilema pembangunan versus kesehatan. Di satu sisi, proyek IKN diharapkan membawa kemajuan, namun di sisi lain, dampak lingkungan yang tak terkendali mengancam kesehatan ribuan warga. Langkah cepat dan tepat dari pemerintah pusat sangat dinantikan untuk mengatasi masalah ini sebelum terlambat.
Jika tidak, warga bersama anak-anak yang terpapar langsung debu dari aktifitas tambang galian c, harus terus berjuang melawan debu yang tidak hanya mengotori rumah mereka, tetapi juga perlahan merusak kesehatan mereka. Masa depan yang cerah harus dibangun tanpa mengorbankan kesehatan generasi sekarang.
Pemerintah dan semua pemangku kepentingan harus segera bertindak untuk memastikan bahwa kemajuan tidak menjadi bencana bagi warga setempat.
Kepungan debu di area tambang sepanjang pesisir pantai Palu-Donggala bukan hanya sekadar isu lingkungan, tetapi juga isu kemanusiaan. Dampaknya menyentuh setiap aspek kehidupan masyarakat setempat. Pemerintah, perusahaan, dan seluruh elemen masyarakat harus bekerja sama untuk menemukan solusi yang berkelanjutan dan adil.
Hanya dengan begitu, pesisir Palu-Donggala dapat kembali menjadi simbol keindahan alam dan sumber kehidupan yang lestari, bukan sekadar tambang yang menguras habis segalanya. Perjuangan JATAM dan WALHI Sulteng adalah cermin dari semangat kolektif untuk menjaga alam dan masa depan bersama. Kita semua memiliki peran dalam menjaga bumi ini, agar tetap menjadi tempat yang layak huni bagi generasi mendatang.
