Trauma dan rasa takut masih menghantui, terutama pada anak-anak yang hingga kini masih sulit melupakan detik-detik saat gempa mengguncang desa mereka.
“Kalau malam mereka sering terbangun dan menangis. Begitu mendengar suara keras sedikit saja, mereka langsung takut dan mencari orang tuanya. Yang mereka butuhkan sekarang bukan hanya makanan, tetapi juga rasa aman,” tutur seorang ibu rumah tangga.
Baca Juga : Rakorwilsus PSI Sulteng Ditunda, Ahmad Ali Titahkan Fokus Bantu Korban Gempa
Melihat kondisi tersebut, PSI Peduli Bencana tidak hanya membawa bantuan kebutuhan pokok.
Relawan juga menggelar berbagai kegiatan trauma healing untuk membantu memulihkan kondisi psikologis anak-anak penyintas.
Lapangan pengungsian yang sebelumnya dipenuhi kecemasan perlahan berubah menjadi ruang penuh keceriaan.
Anak-anak diajak bermain, menggambar, bernyanyi, dan mengikuti berbagai aktivitas edukatif yang dipandu relawan.
Tawa yang sempat hilang akibat bencana mulai kembali terdengar.
Senyum anak-anak yang perlahan muncul menjadi tanda bahwa proses pemulihan psikologis mulai berjalan.
Koordinator Relawan PSI Peduli, Moh Maskur, mengatakan pemulihan pascabencana harus dilakukan secara menyeluruh, baik secara fisik maupun mental.
Baca Juga : Farid Podungge Disebut Jadi ‘Tokoh Kunci’ Strategi PSI Sulteng Menuju 2029
“Ketika bencana terjadi, yang rusak bukan hanya rumah dan fasilitas umum. Ada trauma yang dirasakan masyarakat, terutama anak-anak. Karena itu kami hadir tidak hanya membawa bantuan logistik, tetapi juga memberikan pendampingan agar mereka kembali memiliki semangat dan harapan,” katanya.
