“Kami selalu menyediakan material yang sesuai JMD, tapi terkadang ada kelalaian di lapangan yang tidak dapat dihindari,” tambahnya.
Nafin juga menyebutkan bahwa konsultan pengawas secara rutin meninjau lokasi proyek dan memastikan pelaksanaan sesuai dengan standar.
Ia menegaskan bahwa tidak ada unsur kesengajaan dalam pencampuran material yang tidak memenuhi spesifikasi.
“Setiap hari konsultan pengawas berada di lapangan untuk memantau. Kami tidak melakukan pembiaran atau sengaja mencampur material yang tidak sesuai,” jelasnya.
Meskipun demikian, laporan warga dan temuan investigasi menunjukkan adanya ketidaksesuaian dalam pelaksanaan proyek Jalan Batusuya Tamarenja.
Dengan nilai kontrak mencapai Rp6,3 miliar, kualitas dan transparansi proyek ini menjadi sorotan utama masyarakat Donggala.
Dugaan penggunaan material yang tidak sesuai spesifikasi memunculkan kekhawatiran tentang potensi kerugian pada kualitas jalan dan, lebih jauh lagi, potensi kerugian keuangan daerah jika hal ini dibiarkan berlanjut.
Proyek Jalan Batusuya Tamarenja kini menjadi perhatian publik, terutama karena kecurigaan adanya upaya untuk mengurangi kualitas pekerjaan demi meraup keuntungan yang lebih besar.
