Namun, melalui beberapa organisasi yang digelutinya, teman temanya menginginkan peranya. Di tanah kelahiranya, Zainudin Tambuala beraktifitas sebagai tenaga pengajar di Universitas Alkhaerat (UNISA) Palu. Singkat cerita, dia pun di daulat menjadi salah satu tokoh pengurus PKS di Sulteng.
Berawal di PKS inilah Zainudin Tambuala berkiprah di dunia politik yang dikenal kejam. Namun, politik tidak mengubah prinsip hidup Zainudin Tambuala yang di pegangnya sejak kecil. Dia bertekad menjadikan politik sebagai bagian dari solusi permasalahan daerah. Bukan sebaliknya, menjadikan politik sebagai sumber masalah bagi daerah.
Kipra Zainudin di PKS terus menanjak. Bahkan, politkus yang sudah di karunia empat orang anak tersebut dua kali menjadi ketua DPW PKS Sulteng. Dia juga menunjukan prestasi dengan menjadi salah satu anggota DPRD Provinsi Sulteng dari PKS sebanyak II periode 2009-2014, dan 2014-2019 yang terpilih dengan suara melebihi bilangan pembagi pemilih. Hal ini menunjukan bahwa Zainudin adalah figur yang siap mengemban amanah apapun dengan penuh tanggung jawab dan dedikasi tinggi.
Kemampuanya sebagai pemimpin yang juga diperlihatkan ketika membawa sambutan dihadapan sejumlah kader PKS empat bulan lalu, Ketua Panita Pemilihan (Panlih) Wakil Gubernur Sulteng itu, dengan lantang mengatakan, selain karakteristik kader dalam perubahan, adalah berdasarkan aqidah yang benar. Tidak boleh menghalalkan segala cara untuk meraih perubahan.
Perubahan itu kata dia, dilakukan harus bersifat humanis. Jangan sampai ada kader, membuat perubahan di satu pihak mengangkat orang lain dan menginjak orang lain. Dalam perubahan yang humanis ini, jelas anggota DPRD Sulteng, sebagaimana peristiwa Fathul Makkah.
