Lantas bagaimana kedudukan mereka yang gagap teknologi?
Kehancuran dan kesemrawutan berita-berita yang dihadirkan telah melemahkan nalar kritis mereka. Alhasil mereka takut bertarung dalam kontestasi politik. Pengaruh dan tawaran program visi dan misi yang diberikan sangat menggiurkan, ketakutan masyarakat terhadap kontestasi politik semakin menjadi-jadi.
Mengapa demikian? Karena istilah “politik” yang banyak dipahami oleh masyarakat, lebih cenderung dikaitkan dengan suatu model pertarungan busuk, dalam ruang publik untuk mendapatkan kekuasaan. Di dalam jalan pertarungan politik, identitas moral dan etika semakin merosot–ke level yang paling rendah–bahkan sampai pada keasingan identitasnya.
Dalam kontestasi politik kecenderungan umumnya adalah menghalalkan segala cara, untuk mencapai kepentingan politik seseorang. Pragmatisme politik seperti ini agaknya sudah masuk begitu jauh, tidak lagi hanya berada pada tataran penguasa kepentingan kapitalisme politik, tetapi kini telah berkolaborasi dengan rakyat. Praktik money politics (politik transaksional) dalam pemilihan umum adalah salah satu contohnya.
Lantas apa yang mesti dibuat?
Bahasa adalah sebuah tanda yang harus bisa dilihat sebagai alat komunikasi, untuk mengidentifikasi opini-opini yang diterima. Yang paling utama adalah bahasa sebagai tanda harus mampu digunakan untuk berkomunikasi satu arah (komunikasi verbal) antara kontestan politik dan masyarakat luas.
Ini adalah salah satu strategi yang dibutuhkan untuk menghindari publik dari opini-opini yang termanipulasi, karena kadang-kadang opini-opini yang dibuat menggunakan sebuah “logika pembalikan”. Artinya, yang benar disalahkan, sebaliknya yang salah dibenarkan, sehingga muncul stereotip dari masyarakat tentang calon tertentu. ***
