Dari riset yang telah dilakukan oleh WALHI didapatkan data bahwa lahan seluas 159 juta hektar sudah terkapling dalam ijin investasi industri ekstraktif.
Luas wilayah daratan yang secara legal sudah dikuasai oleh korporasi yakni sebesar 82.91%, sedangkan untuk wilayah laut sebesar 29.75%.
Data IPBES 2018 juga menyebutkan bahwa setiap tahunnya Indonesia kehilangan hutan seluas 680 ribu hektar, yang mana merupakan terbesar di region asia tenggara.
Sedangkan data kerusakan sungai yang dihimpun oleh KLHK tercatat bahwa, dari 105 sungai yang ada, 101 sungai diantaranya dalam kondisi tercemar sedang hingga berat.

Laporan khusus ‘global warming of 1,5 C’ dari IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change) yang dibuat oleh 91 peneliti dari 40 negara terbitan 8 Oktober 2018 melaporkan bahwa:
- Beberapa perubahan iklim ekstrim dengan intensitas dan frekuensi yang meningkat karena kenaikan suhu sebesar 0,5 °C sudah dilaporkan.
- Tanpa keterlibatan dari semua pihak, peningkatan suhu global maksimal 1,5 atau 2 °C mustahil tercapai.
- Akibat dan biaya dari peningkatan suhu 1,5 °C akan jauh lebih besar dari perkiraan semua pihak saat ini.
- IPCC melaporkan bahwa 1,5 °C dapat dicapai dalam 11 tahun dan hampir pasti sebelum 20 tahun tanpa pengurangan CO2 yang berarti. Bahkan jika pengurangan CO2 dimulai saat ini, hal itu hanya akan memperlambat, bukan meniadakan kenaikan suhu global.
- Laporan ini memperingatkan bahwa walaupun kenaikan 0,5 °C kelihatan tidak berarti, memanaskan bumi terus menerus akan berdampak besar terhadap kehidupan manusia, ekonomi dan ekosistem.
- Laporan khusus ini membahas berbagai kemungkinan untuk mematok pemanasan global pada 1,5 °C dan menghapus total penggunaan bahan bakar fosil dalam waktu 30 tahun. Artinya tidak ada lagi kendaraan yang berbahan bakar bensin atau solar, semua PLTU dan PLTG ditutup dan industri berat seperti industri baja menggunakan sumber energi yang ramah lingkungan.
- Tergantung seberapa cepat pengurangan CO2 yang terjadi, antara 1 – 7 juta km persegi tanah harus dikonversikan menjadi ladang tanaman untuk bio bensin dan bio diesel serta sampai 2050 ada penambahan hutan seluas 10 juta kilometer persegi. Itupun sebenarnya tidak cukup karena setiap CO2 yang diemisikan selama 100 tahun terakhir akan terus menahan panas di atmosfir untuk beberapa ratus tahun kedepan. Bahkan di tahun 2045 atau 2050 atmosfir masih mengandung terlalu banyak CO2.
- Melindungi dan memperluas hutan sangat penting karena hutan menurunkan suhu global dan juga kunci untuk menciptakan hujan untuk membasahi kebun dan ladang.
berdasarkan data 2017, Indonesia adalah penyumbang gas rumah kaca nomor 5 terbesar di dunia dan merupakan kontributor terbesar untuk emisi yang disebabkan penebangan hutan dan degradasi hutan.
Krisis peningkatan suhu global sudah didepan mata dan akan kita alami sendiri. Bagaimana kondisi bumi 10 – 20 tahun lagi. Bagaimana nasib generasi penerus kita nanti? Sudah saatnya kita mengurangi pembakaran bahan bakar fosil.
