Lomba ini, yang baru pertama kali digelar, ternyata cukup menarik perhatian hingga melampaui target pendaftaran awal yang hanya 200 peserta.
Manager Taman Wisata Purbawahana, Dwi Kurniawan, mengungkapkan bahwa kehadiran peserta yang membeludak ini menunjukkan betapa besarnya antusiasme masyarakat terhadap lomba unik ini.
“Pendaftaran gratis memang jadi magnet bagi banyak orang,” ujar Dwi, sembari tersenyum melihat lautan air mata di hadapannya.
Setelah peluit berbunyi, para ibu ini tidak hanya menangis dengan sekadar air mata, tetapi mereka berusaha sekuat tenaga untuk menangis dengan penuh perasaan.
Mereka tidak boleh mengusap mata, dan tangisan harus tetap terus menerus hingga lomba selesai. Ini adalah strategi yang tidak hanya mengandalkan kemampuan alami tetapi juga teknik khusus untuk memancing air mata.
Winarni, pemenang pertama lomba menangis, mengungkapkan rahasianya kepada wartawan, “Saya pikirkan semua kesedihan yang pernah saya alami. Memikirkan masalah rumah tangga, atau mungkin nonton drama Korea yang bikin baper apa pun yang bisa memicu tangisan.” Dengan trik ini, Winarni tidak hanya menangis secara efisien tetapi juga meraih piala juara pertama dan hadiah uang tunai.
