Sempat Drop di Kuartal 1, Laba Positif Vale Kembali Melonjak USD25,1 Juta Pada Kuartal 2 Tahun Ini

  • Bagikan
Laba
Smelter PT Vale Indonesia

Sempat drop pada kuartal 1 Tahun 2021 (1T21), keuangan PT Vale Indonesia Tbk (INCO) bersama group kembali melonjak dengan capaian laba positif  sebesar USD25,1 juta pada kuartal 2T21 .

Berdasarkan laporan kas keuangan perseroan IDX Ticker INCO berhasil membukukan hasil capaian kinerja keuangan sebesar USD25,1 juta pada kuartal 1/2021. Perolehan itu naik , atas penjualan nikel matte sebanyak 15.845 metrik ton dengan perdagangan sebesar AS$208,4 juta pada triwulan tersebut.

Baca Juga : Ini Penyebab Produksi Nikel Indonesia Millik VALE Drop 17% Pada Semester I 2021

“Volume penjualan sekitar 7% lebih tinggi pada 2T21 dibandingkan pada 1T21, mengimbangi harga realisasi rata-rata yang lebih rendah pada triwulan tersebut,” kata, CEO dan Presiden Direktur PT Vale, Febriany Eddy, melalui pesan rilis yang dibagikan kepada jurnalis, di Palu, Kamis 29 Juli 2021.

Perbaikan kritikal pada bagian pengolahan nikel yang terus dipacu saat ini, kata Eddy, akan memungkinkan peningkatan produksi nikel sehingga mengalami hasil yang positif meskipun ditengah pandemic Covid -19.

“Kami menyelesaikan kegiatan pemeliharaan kritikal pada triwulan ini yang memungkinkan kami mencapai tingkat produksi seperti yang telah dipublikasikan sebelumnya. Saya mengakui kerja keras karyawan kami untuk terus memberikan hasil yang positif sambil mengelola COVID-19.

Baca Juga : PT Vale Akan Kuasai Dua Blok Tambang Nikel di Bahodopi

Pada laporan keuangan 30 Juni 2021 Kas dan setara kas Grup tercatat sebesar AS$426,5 juta, naik dari AS$386,2 juta pada posisi 31 Maret 2021.

PT Vale mengeluarkan sekitar AS$33,3 juta untuk belanja modal pada 2T21, mengalami penurunan dari yang dikeluarkan pada 1T21 sebesar AS$38,5 juta. Hal ini membuat PT Vale akan senantiasa berhati-hati mengontrol pengeluaran untuk menjaga ketersediaan kas.

Grup mencatat EBITDA sebesar AS$72,3 juta pada 2T21, lebih rendah dari yang tercatat pada 1T21 sebesar AS$88,9 juta, terutama disebabkan oleh biaya yang lebih tinggi dan harga realisasi rata- rata nikel yang lebih rendah.

Grup juga mencatat laba positif sebesar AS$25,1 juta pada 2T21, turun dari laba sebesar AS$33,7 juta pada 1T21 sejalan dengan penurunan EBITDA.

Baca Juga : Morowali Jadi Sentral Pabrik Lithium Battery Indonesia Terbesar

Namun, laba pada 1H21 sebesar AS$58,8 juta lebih tinggi dari periode yang sama tahun lalu ketika Grup mencatat laba sebesar AS$53,1 juta pada 1H20. Beban pokok pendapatan Grup pada 2T21 meningkat 13% menjadi AS$174,3 juta dari AS$154,8 juta pada 1T21.

Dibandingkan dengan 1T21, konsumsi HSFO per metrik ton nikel matte meningkat 22%, sementara konsumsi batubara turun 12%, mengimbangi HSFO yang lebih tinggi pada 2T21. Selama triwulan ini baik harga HSFO, diesel dan batubara mengalami peningkatan masing-masing sebesar 17%, 17% dan 10%.

Baca Juga : China Dominasi Investasi Bijih Nikel untuk bahan baku Baterai lithium di Morowali

Perseroan akan tetap fokus pada berbagai inisiatif produktifitas dan penghematan biaya untuk mempertahankan daya saing Perseroan dalam jangka panjang tanpa mengkompromikan nilai utama Perseroan, yaitu keselamatan jiwa merupakan hal terpenting, menghargai kelestarian bumi dan komunitas kita.

Perseroan menghimbau pembaca untuk melihat ikhtisar pencapaian Grup. Pencapaian operasional serta hasil keuangan yang belum diaudit telah dirangkum pada halaman-halaman selanjutnya.

  • Bagikan
error: Content is protected !!