Selain itu, Proses pengawasan pekerjaan proyek yang disinyalir menyimpang itu patut dipertanyakan. Seharusnya jika pengawasan dilakukan secara baik, masalah itu terdeteksi lebih awal dan bisa dicegah dengan melakukan teguran kepada pihak rekanan atau kontraktor yang mengerjakan proyek tersebut. Lantas Siapa dibalik penanganan proyek rehabilitasi jalan itu?
Dia adalah Syafrulah, yang memangku jabatan sebagai Kepala Dinas PUPR Kabupaten Donggala. Dialah penanggung jawab pada proyek strategis daerah ini, dialah yang bertanggung jawab atas sejumlah kerusakan pada proyek yang telah menggerus keuangan daerah yang mencapai miliaran rupiah. Tidak jarang, kantornya didatangi para kontraktor yang memintah jatah proyek, sehingga harus meminta perlindungan. Meskipun belum pernah tersandung hukum terkait dengan jabatanya, tapi hal itu dilakoni dengan santai karena merasa dia yakin tidak melakukan sesuatu yang salah.
Kepala Dinas PUPR Kabupaten Donggala, Syahfrulah, ketika dikonfirmasi belum lama ini melalui sambungan telefon selularnya enggan merespon. Meskipun berkali-kali dilakukan sambungan telfon secara berulang dan di konfirmasi via pesan singkat SMS tidak direspon. Sepertinya orang nomor satu di Dinas PUPR Kabupaten Donggala itu, memilih menutup diri rapat-rapat untuk tidak mau memberikan keterangan kepada media ini. Hingga berita ini diterbitkan Syahfrulah, masih memilih bungkam terkait persoalan yang menjadi tanggungjawabnya.
Sepekan yang lalu hasil penelusuran Trilogi.co.id, di ruas Labean –Manibaya yang menjadi lokasi bekas pekerjaan proyek rehabilitasi jalan TA 2017 lalu yang menelan anggaran Rp14 Miliar lebih, yang dikerjakan oleh PT Mandava Putra Utama, sangat memprihatinkan. Hampir serempak dilokasi hasil pekerjaan itu berantakan. Sepanjang jalan yang melintasi area pegunungan tampak porak – poranda akibat timbunan longsor yang terbengkalai dan ditubuhi rerumputan. Sepanjang jalur itu, hampir 1 kilometer jalan aspal tertutupi tanah longsoran.
Pondasi penahan bahu jalan juga mengalami ambelas, retak – retak, bahkan timbunan pada badan jalan turut ambelas. Cukup aneh, proyek yang menelan anggaran Puluhan miliar itu dihasilkan dengan karya yang sangat buruk. Tentunya hal ini akan menimbulkan kecurigaan besar dimasayarakat terkait dengan keberadaan proyek tersebut. Dengan kejadian itu, tentunya kerugian besar terjadi pada keuangan daerah Pemkab Donggala.
Masyarakat Kecamatan Balaesang Tanjung, berharap serta menunggu gerakan pihak aparat yang terkait untuk menelusuri kegiatan rehabilitasi jalan yang diduga telah merugikan keuangan daerah di Kabupaten Donggala tersebut. Akankah, ini menjadi petunjuk awal bagi aparat hukum untuk memutus mata rantai permainan ini?. Kita tunggu gebrakanya.. Bersambung.
