“Saat saya menjadi camat di Sorowako, Luwu Timur, air danau Sorowako tetap jernih meski ada industri tambang. Tapi di Morowali, airnya keruh karena pencemaran. Ini yang saya sebut ‘pendarahan’ lingkungan,” ungkap Anwar Hafid.
Selain itu, Anwar Hafid bicara eksploitasi sumber daya alam dengan menyarankan pengalihan pajak dari mulut tambang ke industri tambang.
“Jika pajak dikenakan di mulut industri, PAD Sulawesi Tengah bisa jauh lebih besar. Selain itu, kita harus memperketat pengawasan terhadap aktivitas tambang ilegal yang masih marak terjadi,” imbuhnya.
Sementara itu, Sudirman Suhdi dari KAHMI juga menekankan pentingnya keterlibatan pemerintah daerah dalam mengawasi aktivitas industri tambang.
“Pemerintah harus berani melakukan intervensi agar industri tambang benar-benar membawa manfaat bagi masyarakat lokal. Jangan sampai potensi SDA kita dikuasai pihak luar tanpa ada manfaat yang jelas bagi rakyat,” katanya.
Baca Juga : Cagub Sulteng Anwar Hafid Tegaskan Komitmen Amanah dan Kerja Keras untuk Rakyat
Anwar Hafid bicara eksploitasi sumber daya alam dengan harapan pemerintah daerah dapat lebih aktif dalam mengawasi dan mengatur kebijakan yang berpihak pada kepentingan rakyat.
“Sulawesi Tengah butuh pemimpin yang tegas, berani, dan peduli pada kesejahteraan rakyat, bukan hanya pemimpin yang mengejar kepentingan pribadi,” tutupnya.
Dalam pernyataannya, Anwar Hafid menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, pengusaha, dan masyarakat untuk memaksimalkan potensi sumber daya alam Sulawesi Tengah.
“Ini bukan hanya soal tambang, tetapi bagaimana SDA yang kita miliki dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Kita harus bersama-sama berjuang agar SDA kita tidak hanya menjadi sumber konflik, tetapi juga menjadi modal kesejahteraan bagi kita semua,” pungkas Anwar Hafid.
