Dan yang peling ngeri, mereka tidak bisa mencegah pendukungnya memobilisasi identitas yang menjebak timnya dalam *perilaku rasis*. Bahkan kadang-kadang sudah terkesan menghina fisik.
Sayangnya, Bawaslu tidak melihat mobilisasi isu lewat identitas usia sebagai bahaya demokrasi. Padahal PKPU melarang dengan tegas penggunaan isu identitas sebagai tema kampanye.
Jebakan ini menempatkan kandidat sebelah tidak menemukan momentum untuk rebound. Mereka terjebak dalam alur kampanye yang mengarah pada sikap bulying.
Sebaliknya, sampai di sini, rakyat semakin mengerti, bahwa kandidat sebelah tidak memiliki kapasitas yang dapat ditawarkan selain mengikuti perintah “Bapak Pengusung”. Hantam kromo.
***
Dua Jari Salam Kemenangan
Bukannya kendor. Mobilisasi isu usia tidak membuat militan Cudi-Ma’mun melempem. Isu usia justru menjadi basis kekuatan yang dibuktikan dengan meningkatnya jumlah tatap muka dan sebaran kampanye Cudi-Ma’mun.
Militan Cudi-Ma’mun sadar, bahwa Sulteng tidak membutuhkan pemimpin yang hanya mampu bersolek. Sulteng harus keluar dari jebakan kepura-puraan. Menempatkan pembangunan untuk semua sebagai bingkai paradigmatik.
Tidak terjebak habitus identitas. Militan Cudi-Ma’mun justru semakin kreatif menawarkan gagasan-gagasan Cudi-Ma’mun yang otentik.
Ibarat kata, lawan politik tidak menemukan celah keunggulan dari Cudi-Ma’mun. Sehingga, sejauh jalan menuju Sulteng Maju dan Sejahtera, rakyat hanya melihat peluang itu dalam pasangan Nomor Urut 2.
Pasangan Cudi-Ma’mun bukan hanya pemimpin untuk semua. Tetapi adalah harapan yang membentang sepanjang hamparan padi di Parigi Moutong, samudera khatulistiwa, dan ketinggian Nokilalaki.



The story of Cudi is truly inspiring, especially how his leadership was recognized from a young age. It reminds me of how tools like pixelbeads can help nurture creativity and precision in crafting, much like the discipline seen in Cudi’s journey. Check it out at pixelbeads.