*Cudi Diserang Politik Identitas*
Seorang filsuf Eropa pernah berujar,” rasisme itu ibarat makan daging saudara,”. Demikianlah kondisi yang sedang melanda lawan tarung Cudi-Ma’mun. Tidak banyak peluang rebound. Pilihannya, hanya dengan mobilisasi identitas.
Identitas yang digunakan sebagai publik isyu adalah bentangan usia. Perbandingan usia dipilih dan dimobilisasi pada level publik untuk mengejar ceruk suara.
Mungkin mereka berharap dengan membangun negativisme figur dengan mengulik usia Rusdy Mastura, akan melahirkan sikap ragu-ragu dan memberi peluang untuk masuk dengan isu tampang.
Mengapa demikian? Sebab tidak mungkin memilih jalur gagasan. Memilih gagasan itu sama dengan menunjuk hidung “Bapak Pengusung dan Penderma Partai”. Bagaimana tidak, ia telah mewanti-wanti kandidatnya.
“Jangan bikin program yang tinggi-tinggi. Jangan kayak kubu sebelah yang program halu,” ujarnya.
Ini semacam peringatan bagi sang kandidat untuk tidak keluar dari track status quo. Tugas sebagai pelanjut harus tetap tidak boleh lebih unggul dari status quo.
Dan ini membuat situasi tim sebelah terjebak dalam habitus lama. Wajah baru kekuasaan lama. Tidak ada aspek kebaruan yang bisa ditawarkan selain bentuk wajah yang lebih muda dari segi usia.
Ini problem, walaupun wajah baru tetapi tidak menawarkan gagasan. Mereka terjebak dalam konsep berkarat yang berisi:
1. Pendapatan asli daerah yang rendah
2. Penanganan pasca bencana yang tidak beres
3. Jumlah kemiskinan yang tinggi
4. Jumlah stunting yang tinggi
5. Serta infrastruktur yang separuhnya dalam kondisi mengenaskan.



The story of Cudi is truly inspiring, especially how his leadership was recognized from a young age. It reminds me of how tools like pixelbeads can help nurture creativity and precision in crafting, much like the discipline seen in Cudi’s journey. Check it out at pixelbeads.