Saat ini, dia menuturkan, 60%—80% komponen baterai lithium berasal dari nikel, dan Indonesia memiliki cadangan nikel paling besar. Rencananya, pembangunan pabrik baterai yang mulai melakukan peletakan batu pertama pada Januari 2019 tersebut akan selesai dalam 2 tahun.
Pengembangan baterai listrik menjadi faktor utama keberhasilan pengembangan mobil listrik di dalam negeri.
Dia menuturkan, pabrik baterai kendaraan listrik yang berdiri di Indonesia bisa menjadi pemasok kendaraan bermotor mobil listrik di dalam negeri.
Menurutnya, baterai yang dipasok dari dalam negeri akan membuat harga kendaraan listrik di Indonesia menjadi lebih terjangkau dibandingkan dengan harus impor. Oleh karena itu, lanjutnya pihaknya memiliki wacana kendaraan sepeda motor yang dibeli dengan APBN atau APBD adalah produksi dalam negeri.
Baterai yang digunakan untuk kendaraan bermotor roda dua tersebut dapat dipasok dari pabrik yang akan dibangun di Morowali. Keterlibatan APBN atau APBD, dia menuturkan dapat membuat industri terkait dengna kendaraan listrik di dalam ngeri dapat berjalan, bahkan meluas. Kondisi tersebut, lanjutnya dapat membuat Indonesia bisa melakukan ekspor ke luar negeri.
