Sebagai contoh, alat AUTOCLAVE STD yang dalam proyek tercatat senilai Rp194 juta, ternyata dalam katalog dengan spesifikasi yang sama hanya bernilai Rp75 juta.
Selisih harga yang signifikan ini menjadi salah satu indikasi kuat adanya praktik mark-up yang merugikan keuangan negara.
Selain itu, alat GET LOGIC READER juga menjadi sorotan. Harga alat tersebut dalam proyek mencapai Rp556 juta setelah ditambahkan berbagai biaya tambahan seperti overhead, ongkir, dan pajak.
Namun, harga sebenarnya di pasaran hanya sekitar Rp143 juta, sehingga terjadi penggelembungan harga lebih dari Rp400 juta.
Penggelembungan harga ini menunjukkan adanya konspirasi untuk memperkaya diri sendiri dan pihak-pihak terkait.
Penahanan ini juga menimbulkan keprihatinan luas di kalangan akademisi dan masyarakat, mengingat proyek tersebut seharusnya mendukung peningkatan fasilitas pendidikan di Untad.
Beberapa pihak dari lingkungan kampus telah dimintai keterangan, termasuk pejabat laboratorium dan fakultas yang terkait langsung dengan proyek ini.
