Lahir dari seorang ayah tekhnokrat. Cudi sudah bisa jadi asisten guru untuk mata pelajaran aljabar, sejak belia. Semasa SMU ia selalu Ketua kelas. Guru yang suka menunjuknya ketua kelas adalah B Lawira. Ayah kandung, Ketua Tim Pemenangan Cudi Ma’mun, Nilam Sari Lawira.
Ini peristiwa yang punya dasar genealogis. Suatu masa dimana tokoh sekelas B Lawira telah melihat Cudi kecil sebagai seorang pemimpin. Dan kini, di tangan dingin seorang Jenderal Politik Perempuan, Nilam Sari Lawira, mendeklair mimpi historis itu.
Barangkali ini disebut edisi jalan-jalannya. Sejarah meletakan sebuah embrio yang pada babak-babak berlalu, berliku terjal, dan pun kini meyakinkan.
“Cudi adalah Gubernur yang kita inginkan. Kita membutuhkan pemimpin yang berani, cerdas dan bertanggung jawab,” ujar Nilam Sari Lawira.
Jalan untuk mempertegas impian ini adalah mengikuti alur pemilu. Datang dan menempatkan Cudi sebagai sebuah solusi yang diharapkan.
Nilam tahu, bahwa tantangan zaman dalam era peralihan masa menuju millenium keempat ini. Sulteng butuh sentuhan pengalaman, dan pemimpin yang memahami masa depan.
Segayung sambut mimpi itu diikuti dengan dengung kekuatan dari energi para militan Cudi-Ma’mun. Pemimpin yang ideal bagi Sulawesi Tengah adalah yang punya karakter pendobrak.
Cudi memenuhi semua pra syarat yang menjadi tuntutan publik. Sehingga tidak heran kalau hingga detik ini, deklarasi dukungan mengalir bak banjir bandang. Hanya dalam 7 hari, lebih dari 50 kali tatap muka sejak penetapan dilakukan.
Kinerja itu menempatkan Cudi sebagai pemimpin yang paling diharapkan.
***



The story of Cudi is truly inspiring, especially how his leadership was recognized from a young age. It reminds me of how tools like pixelbeads can help nurture creativity and precision in crafting, much like the discipline seen in Cudi’s journey. Check it out at pixelbeads.