KRITIS PROYEK PUSING TUJUH KELILING
Rahmudin Loulembah dan Alirman M Nubi, tidak bisa menyembunyikan kegusaranya !.
Sudah dipastikan dahi Kepala Satuan Kerja (Kasatker) bersama Pejabat Pembuat Komitmen (PPK-S 02), yang bertangung jawab pada proyek senilai Rp1,7 Miliar itu, langsung berkerut.
Selama kurun waktu Lima (5) bulan terakhir, proyek pembangunan jembatan gantung Tongoa sepanjang 122 meter ditanganinya itu, terancam kritis.
Proyek miliaran tanpa perencanaan matang dan kurang selektif memilih rekanan akan bangun terseok-seok, hingga sebelum dijalankan.
Begitulah yang terjadi pada proyek proyek nawa cita infrastruktur wilayah terpencil pembangunan jembatan gantung tongoa yang dikelolah Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD-TP) Dinas Permukiman dan Prasarana Wilayah (Kimpraswil) Provinsi Sulawesi Tengah, yang sejak awal diduga di paksakan.

Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN XIV Palu) melalui Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD-TP) Kimpraswil Provinsi Sulawesi Tengah, dinilai tidak andal merancang serta menseleksi rekanan. Asumsi meleset jauh.
Pengucuran anggaran melaju deras. Anggaran hilang, kritis terbilang !. Kini Keduanya pusing tujuh keliling karena proyek jembatan yang menghubungkan dua Kecamatan di Kabupaten Sigi itu terancam kritis dan sepi pekerja. Meskipun dana untuk membiayai proyek tersebut terus mengalir.
Tampak seorang pria paruh baya berkacamata mengenakan kemeja merah lagi sibuk memungut kayu bakar ditepian sungai lokasi dijadikan proyek pembangunan jembatan gantung Tongoa, yang terletak di Desa Tongoa, Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi. Sesekali ia terlihat berlindung disamping alat berat jenis Exavator PC 200 yang sedang parkir.
Tak ada aktifitas para pekerja proyek ketika itu, hanya saja seorang pria paruh baya yang usianya diperkirakan 50-an tahun itu terlihat mondar-mandir dilokasi.
Sebagian lagi, dua orang pria muda berada diseberang sungai yang diketahui sebagai penjaga palang jembatan darurat warga Desa Kamarora.
“Hampir sebulan ini mereka tidak ada muncul, semuanya turun ke Palu. Katanya mau urus uang, Saya disini hanya disuruh jaga alat saja,” kata Sulaeman, yang berhasil dikonfirmasi dilokasi proyek akhir pekan lalu.
Semua para pekerja, kata dia, mengeluh dan sempat berhenti bekerja karena pembayaran gaji meraka belum terbayarkan oleh pihak kontraktor.
Namun Hingga saat itu, para pekerja yang diketahui sebagian masyarakat desa setempat sepakat untuk mogok bekerja.
“Sebenarnya sebagian pekerja warga disini juga, sebagian dibawa dari Palu, saya bisa tahu karena rumah saya disewa dijadikan kantor direksi perusahaan itu dan saya juga disuruh jaga alat disini. Tapi dijanjikan akan dibayar dan akan kembali bekerja. Tapi sampai sekarang tidak ada juga datang kesini, tidak tahu kapan kembali bekerja” bebernya kepada trilogi.co.id.
Dilokasi proyek pembangunan jembatan yang menghubungkan dua Kecamatan di Kabupaten Sigi itu yakni Kecamatan Nokilalaki dan Kecamatan Palolo, terlihat sepi dari para pekerja. Tidak ada aktifitas proyek sedikit pun.
