“Tempat itu namanya Poboya, tambang emas yang terletak di bukit,” Kata Udin, warga setempat. Poboya bukan sekadar tambang biasa. Warga Palu paham betul mereka hidup bersandingan dengan area pertambangan yang penuh kontroversi. Sengkarut tambang ini bagian dari masalah nasional tentang tambang emas ilegal di Indonesia.
Di pusat tromol Poboya, deru mesin terdengar. Mesin tromol, yang juga disebut gelundung karena terbuat dari drum besi berbentuk bulat, berfungsi untuk menghancurkan dan menangkap butiran emas. Pada mesin tromol itulah, zat kimia merkuri sering digunakan. Merkuri berfungsi untuk mengikat emas. Limbahnya kemudian dibuang melalui saluran air menuju bak penampungan besar yang terletak di sekitar sentra produksi.
Konon, ratusan tromol yang ada di Poboya seluruhnya memiliki bak penampungan limbah. Sehingga jamak ditemui kolam limbah merkuri semacam itu di desa tersebut. Namun, pemandangan itu begitu mencengangkan dan mengkhawatirkan bagi warga Palu yang selama ini hanya mendengar desas-desus soal pencemaran merkuri, kemudian melihat langsung betapa merkuri dibuang sevulgar itu di Poboya.
Kolam merkuri otomatis meningkatkan potensi pencemaran tanah. Selanjutnya, merkuri yang mencemari tanah akan ikut meracuni aliran air dalam tanah, sehingga air akan jadi berbahaya jika diminum warga. Sama bahayanya jika air tersebut digunakan untuk mencuci sayur-mayur dan buah-buahan. Makanan bisa ikut tercemar merkuri dan mengontaminasi mereka yang mengonsumsinya.
Meski begitu, mereka yang terpapar merkuri memang tak akan langsung merasakan dampaknya. Pengendapan merkuri dalam tubuh baru akan terlihat dalam jangka panjang, sekitar 5-10 tahun kemudian.
