TERKINI
Update cepat: berita terbaru tersaji sepanjang hari.

WARGA PALU DALAM CENGKARAMAN MERKURI

Dinas Kesehatan Kota Palu pernah meneliti soal air di wilayah mereka. Hasil penelitian itu tertuang dalam dua dokumen tebal yang disodorkan sang Kepala Dinas, Dr. Royke Abraham, ketika masih menjabat. Dokumen pertama berjudul Kajian Faktor Risiko Pencemaran Merkuri pada Penambang Emas Rakyat di Kota Palu. Penelitiannya dilakukan tahun 2014 untuk mengetahui dampak nyata merkuri terhadap air bersih. Sampel diambil dari 10 titik yang tersebar di Kota Palu.

Dari 10 sampel itu, kata dia, hampir semua sumber air baku mengandung kandungan merkuri. Air baku ialah sumber air minum yang berasal dari sumber air permukaan, cekungan air tanah, atau air hujan. “Berdasarkan penelitian tahun 2014 itu, ada 7 sumur terkontaminasi merkuri,” ujar Royke.

Jumlah merkuri yang melebihi ambang batas bervariasi antara 0,005 sampai 0,008 miligram per liter. Sementara standar normal ialah 0,001 miligram per liter. Berdasarkan penelitian tersebut, Dinkes Palu langsung mengimbau warga untuk mengolah air lebih dulu demi keamanan mereka. “Air baku mengandung logam yang nondegradable (tidak dapat diuraikan), sehingga harus dimasak,” ujar Royke.

Dua tahun kemudian, 2016, Dinas Kesehatan Palu kembali merilis penelitian tentang kondisi air di kota itu, namun dengan variabel berbeda. Objeknya bukan hanya air baku, tapi air yang telah diolah. Hasil penelitian itu membuat Dinkes Palu sedikit lega. Menurut Royke, “Dari 30 sampel yang dikumpulkan, kandungan merkurinya sangat rendah yaitu 0,0005 dari 0,001.”

Meski demikian, fenomena merkuri di Poboya telah menarik lembaga advokasi, peneliti, dan akademisi untuk meneliti dampak pencemaran merkuri di permukiman terdekat.

Halaman Selanjutnya :Dari data yang dihimpun, tanah di Poboya terpapar merkuri dalam jumlah signifikan....
Komentar
maks. 1000 karakter
    Jadilah yang pertama berkomentar.