Bagi keluarga, ini adalah kejanggalan kasus yang tak bisa diabaikan. Ketiga ponsel itu dikunci dengan sandi berlapis yang bahkan Selviyanti tak tahu. Bagaimana bisa orang asing mengakses dan menggunakan ponsel tersebut?
Penemuan Berkat Jalur Informal
Ironisnya, penemuan jenazah Situr tak terjadi lewat prosedur resmi. Seorang anggota TNI bernama Rafli—sepupu dari tetangga Selviyanti—yang justru berhasil menemukannya di dalam mobil ambulans di parkiran RS Duta Indah.
Rafli, yang sedang bertugas di Jakarta, mencurigai tidak adanya informasi resmi tentang keberadaan jenazah dan memutuskan mencari sendiri.
“Kalau bukan karena dia, mungkin jenazah suami saya tidak akan ditemukan,” ujar Selviyanti, berlinang air mata. Ia pun mempercayakan proses pemulangan jenazah kepada Rafli.
Motif yang Belum Terungkap
Kematian ini seolah berada dalam lorong gelap yang tak punya ujung. Situr diketahui berencana membawa sebuah laporan ke Kejaksaan Agung usai Lebaran.
Dugaan sementara, laporan itu terkait kasus sengketa lahan di Morowali Utara satu isu agraria yang selama dua tahun terakhir ia kawal.
Apakah kematiannya berkaitan dengan dokumen itu? Tidak ada jawaban pasti. Namun bagi kalangan aktivis dan jurnalis yang mengenal Situr, banyak percaya bahwa ini bukan sekadar kematian biasa.
Misteri yang Tak Kunjung Terurai
Misteri kematian Situr Wijaya menjadi semacam lubang hitam dalam ekosistem jurnalistik Indonesia.
Dalam sejarah pers Indonesia, sejumlah jurnalis memang pernah tewas dalam situasi tak wajar dari Udin di Bantul hingga Fuad di Kalimantan. Kini, Situr menambah daftar itu.
Yang lebih menyakitkan, ketika prosedur hukum berjalan lambat, publik justru semakin kehilangan kepercayaan. Saat aparat memilih diam, saat hotel menyembunyikan informasi, saat ponsel almarhum digunakan oleh orang asing, publik bertanya: siapa yang sebenarnya ingin kasus ini ditutup?
Hingga kini, jawaban atas kematian Situr Wijaya masih menggantung. Istrinya terus menunggu, rekan-rekannya terus bertanya, publik terus menuntut. Namun misteri ini tetap gelap.
