Sebagai organisasi yang telah berdiri sejak tahun 1930, Alkhairaat memiliki pengaruh besar di Sulawesi Tengah.
Organisasi ini didirikan oleh H.S. Idrus Bin Salim Aljufri, atau yang lebih dikenal sebagai Guru Tua, yang hingga kini tetap menjadi sosok sentral dalam komunitas Muslim di Bumi Tadulako tersebut.
Sejak berdiri, Alkhairaat selalu menegaskan posisinya sebagai lembaga non-politik yang tidak berafiliasi dengan partai politik mana pun, sesuai dengan amanat pendirinya pada muktamar tahun 1963.
Baca Juga : Anwar Hafid Tawarkan Visi Besar di Pilgub Sulteng 2024 | Janji Berani Mundur jika Gagal !
Meskipun demikian, setiap kali momen pemilihan tiba, baik itu pemilu nasional maupun pilkada, Alkhairaat kerap menjadi sorotan.
Hal ini disebabkan oleh kecenderungan politisi lokal maupun nasional yang sering datang ke lembaga ini untuk meminta restu dari para habib, ulama, kiai, dan ustad-ustad yang berada di lingkup Alkhairaat.
Praktik ini, meski lazim, sering kali memicu kontroversi, terutama ketika tokoh-tokoh agama tersebut dianggap membawa nama Alkhairaat untuk mendukung kandidat tertentu.
Dengan semakin dekatnya hari pemilihan, masyarakat Sulawesi Tengah akan terus mengamati bagaimana Alkhairaat, sebagai lembaga yang berpengaruh, akan menyikapi situasi ini.
Apakah mereka akan tetap netral seperti yang diamanatkan oleh pendirinya, ataukah akan ada pergeseran yang bisa mengubah dinamika politik lokal? Hanya waktu yang akan menjawabnya.**
