Situasi ini semakin berbahaya ketika musim hujan tiba.
“Anak sekolah terpaksa menyeberang sungai di Tolitoli. Kalau hujan, arusnya deras dan sangat berisiko,” katanya.
Kerusakan ini terjadi setelah jembatan putus akibat banjir besar yang melanda wilayah tersebut beberapa bulan lalu.
Hingga akhir tahun, belum ada perbaikan permanen yang dilakukan pemerintah daerah.
Kepala Desa Malangga, Abdul Salam, membenarkan keluhan warganya. Ia menyebut sudah berulang kali menyampaikan kondisi Jembatan Malangga Tolitoli kepada instansi terkait, termasuk Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Tolitoli.
“Saya sudah beberapa kali ke Dinas PUPR, tapi jawabannya selalu sama, belum ada anggaran,” ujar Abdul Salam.
Upaya serupa juga dilakukan dengan mendatangi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tolitoli.
Namun, hasilnya tidak berbeda. Keterbatasan anggaran kembali menjadi alasan utama belum adanya penanganan.
Menurut Abdul Salam, keberadaan jembatan tersebut sangat krusial karena menjadi satu-satunya jalur penghubung desa.
