Seorang pengguna jalan, Iwan, mengaku khawatir setiap kali melintas, terutama saat hujan.
“Kalau hujan, lubangnya tidak kelihatan. Itu yang paling bahaya,” kata Iwan saat ditemui di lokasi.
Ia menyebut kerusakan hampir merata di sepanjang ruas.
“Hampir di setiap desa ada lubang. Yang terlihat di lapangan, hasil pekerjaan belum bertahan lama, sementara kegiatan pemeliharaan ada setiap tahun,” ujarnya.
Temuan di lapangan mengarah pada satu persoalan krusial, mutu campuran aspal yang diduga tidak memenuhi spesifikasi.

Permukaan jalan yang cepat terkelupas, agregat yang mudah lepas, serta tambalan yang gagal dalam waktu singkat menjadi indikasi kuat.
Dalam standar teknis, kondisi tersebut dapat disebabkan oleh kadar aspal yang tidak sesuai, gradasi agregat yang tidak memenuhi syarat, atau pemadatan yang tidak optimal.
Jika benar, hal ini bertentangan dengan Spesifikasi Bina Marga 2018 Revisi 2 sesuai hasil reportasi dilapangan mengindikasikan 3mpat persoalan diantaranya,
- Struktur jalan tidak mampu menahan beban lalu lintas
- Mutu campuran aspal diduga tidak sesuai standar
- Sistem drainase tidak berfungsi optimal
- Bahu jalan gagal menopang perkerasan
Keempat temuan tersebut mengarah pada satu kesimpulan, kegagalan konstruksi dini atau premature failure.
Dengan biaya pembangunan jalan nasional berkisar Rp10 miliar per kilometer, kerusakan dalam kategori berat seperti ini menimbulkan kerugian besar.
Estimasi menunjukkan potensi kerugian mencapai Rp4 hingga Rp10 miliar per kilometer. Jika panjang ruas terdampak sekitar 10 kilometer, total kerugian bisa mencapai Rp40 hingga Rp100 miliar.
Untuk memastikan dugaan penyimpangan, investigasi teknis dinilai mendesak.

Sejumlah pengujian perlu dilakukan, mulai dari uji core drill untuk memeriksa ketebalan lapisan, uji CBR untuk menilai daya dukung tanah, hingga audit Job Mix Formula (JMF).
