Dalam konteks itu, latar belakang Helmi sebagai putra daerah dinilai bukan sekadar identitas, melainkan instrumen strategis.
Baca Juga : Diduga “Cawe-cawe” Ekatalog BPJN Sulteng | Jejak Digital Diminta Dibongkar !
“Pemimpin yang lahir dari daerahnya sendiri cenderung lebih memahami akar konflik, termasuk relasi sosial, adat, dan sensitivitas masyarakat,” ujarnya.
Sejak menjabat Wakapolda Sulteng pada November 2024, Helmi dinilai telah memiliki cukup waktu membaca peta kerawanan wilayah.
Posisi itu, dalam perspektif Dedi, menjadi semacam laboratorium kepemimpinan tempat menguji kemampuan membaca situasi sekaligus membangun kepercayaan publik.
Ia juga menyoroti pentingnya kesinambungan kepemimpinan pasca Endy Sutendy. Pergantian yang terlalu drastis, kata dia, berpotensi mengganggu stabilitas yang sudah terbentuk.
“Helmi berada dalam posisi strategis untuk memastikan transisi berjalan mulus tanpa mengorbankan program yang sudah ada,” kata Dedi.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa faktor “putra daerah” tidak boleh menjadi satu-satunya pertimbangan.
Profesionalisme, integritas, dan keberanian dalam mengambil keputusan tetap menjadi indikator utama.
Baca Juga : Menyamar sebagai Debt Collector, Komplotan Curanmor Dibekuk Resmob Tadulako di Palu
