RAPOR MERAH DIJALAN BATAS
Anggaran program Preservasi diruas jalan Bahodopi, Kabupaten Morowali Provinsi Sulawesi Tengah menuju BTS Provinsi Sulawesi Tenggara, semakin terkikis dalam tiga tahun terakhir. Program Preservasi untuk pemeliharaan jalan Nasional, Satker PJN Wilayah III, jalan ditempat.
Tiga bulan berlalu setelah dikucurkan dana puluhan miliar untuk perbaikan jalan, program preservasi belum bisa memulihkan kondisi jalan rusak menjadi baik. Ibarat membangun rel tanpa kereta. Proyek preservasi itu tidak berjalan maksimal seperti digembar-gemborkan : Jalan Nasional Mulus akhir 2019.
Baca Juga : UNTUNG RUGI DIJALAN NEGARA
Diberi nama jalan nasional berkondisi mantap akhir 2019 untuk menyatukan nusantara, preservasi jalan dengan total panjang 108 kilometer yang menjadi kewenangan BPJN XIV Palu sesuai Kepmen PUPR jalan nasional di provinsi Sulawesi Tengah Nomor 248/KPTS/M/2015.

Meliputi panjang ruas Bungku – Bahodopi 42 kilometer & Bahodopi – BTS Sultra 66 kilometer, oleh Direktorat Bina Marga, Kementerian PUPR melalui Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN XIV Palu) itu diklaim bakal memberikan kemudahaan serta kelancaran transportasi jalur darat diKabupaten Morowali, Sulawesi Tengah menuju BTS Sulawesi Tenggara, begitu pun sebaliknya. Kenyataanya “Preservasi Jalan” belum bisa menaklukan sebagian besar kondisi jalan rusak dibagian ujung jalan wilayah Bahodopi menuju batas Provinsi Sulawesi Tenggara.
Salah satu pengendara yang sering melintasi jalur itu memprotes jalan nasional rusak dengan cara merekam setiap kali ditemukanya kondisi jalan rusak sepanjang perjalanya dari BTS Kota Kendari menuju wilayah Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah. Dicky Yuliadi mengatakan, kerusakan jalan batas Sulawesi Tengah menuju Kendari, sudah cukup lama sejak tiga tahun lalu tidak ada perbaikan. “Jalanya tambah parah, tambah banyak yang rusak. Sopir-sopir kalau lewat disitu harus extra hati-hati” kata Dicky Yuliadi, kepada Koran Trilogi.

