Di sisi lain, program tersebut menempatkan APBD sebagai salah satu penopang pembiayaan perlindungan kesehatan masyarakat.
Persoalannya, kemampuan fiskal daerah tidak berada dalam kondisi tanpa batas. Penurunan transfer pusat membuat pemerintah daerah harus menentukan program mana yang dipertahankan dan belanja mana yang harus disesuaikan.
Anwar mengatakan Pemprov Sulteng memilih mempertahankan penuh Berani Sehat dan Berani Cerdas. Sementara program lainnya, di luar belanja pegawai, disesuaikan dengan kemampuan keuangan daerah.
Strategi tersebut menunjukkan adanya perubahan prioritas dalam pengelolaan APBD Sulteng. Ketika ruang fiskal menyempit, belanja diarahkan lebih besar kepada program yang dianggap berkaitan langsung dengan pengurangan beban masyarakat.
BACA JUGA : Anwar Hafid Keluarkan ‘Jurus Jitu’ Berani Cerdas Sulteng, Bawa Beasiswa ke Panggung Nasional
Berani Cerdas sendiri mencakup pembebasan biaya pendidikan SMA, SMK dan SLB, bantuan pendidikan bagi sekolah swasta, hingga pembiayaan kuliah bagi warga ber-KTP Sulteng melalui jalur afirmasi dan prestasi.
Menurut Anwar, sekitar 23 ribu mahasiswa ditanggung pemerintah pada 2025 dan jumlahnya meningkat menjadi 27 ribu pada 2026. Dengan demikian, sekitar 47 ribu mahasiswa tercatat mendapat pembiayaan hingga 2026.
Di tengah tekanan transfer pusat, Anwar menyebut kekuatan fiskal Sulawesi Tengah juga ditopang oleh Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Dalam wawancara tersebut, dia menyebut PAD Sulteng saat ini mencapai Rp2,7 triliun, sementara transfer pusat berada di angka Rp2,1 triliun.
Pemerintah provinsi, kata Anwar, berupaya meningkatkan sumber pendapatan daerah melalui sejumlah regulasi.


