Kondisi intensitas banjir masih terjadi dan ada ratusan warga di sejumlah desa di Kecamatan Lembo mulai diungsikan kelokasi yang ketinggian. Tidak hanya itu banjir juga telah menggenangi jembatan yang menghubungkan desa Beteleme dan desa Nuha, mengakibatkan poros jalan tak dapat dilewati. Bahkan sejumlah kendaraan roda empat maupun dua terjebak karena memaksa melintasi.
Menyikapi peristiwa yang beruntun itu, Fadli Ryzki Koordinator Advokasi & Kampanye Kelompok Muda Peduli Hutan (KOMIU) kalau dugaan awal pihaknya semua berkaitan terjadinya bencana banjir di daerah itu karena 70% lahan di Kabupaten Morowali Utara, bukan kawasan hutan dikuasai sawit dan sisanya banyak sawit masuk dalam kawasan hutan. KOMIU salah satu organisasi peduli hutan menyebutkan, penguasaan lahan oleh izin perkebunan sawit di Kabupaten Morowali Utara, mencapai 173.264 Ha atau 70% dari luasan areal penggunaan lain (APL) dengan jumlah tanaman sawit murni mencapai 41.618 Ha.

“Dari penguasaan lahan tersebut kami menilai saat ini Kabupaten Morowali Utara mengalami krisis daya tampung dan daya lingkungan” ungkap Aldy Rizki.
Dia menambahkan, pihaknya telah mengidenfitikasi dari 12 perusahaan yang telah berproduksi hanya 5 perusahaan yang memiliki Hak Guna Usaha (HGU) yaitu, PT. Kurnia Alam Makmur, PT. Cipta Agro Nusa Abadi, PT. Sinergi Perkebunan Nusantara (SPN)/PTPN XIV, PT. Timur Jaya Indomakmur dan PT. Nusamas Griya Lestari. Selain itu ada 7 perusahaan perkebunan sawit yang belum memiliki hak guna usaha (HGU) diantaranya : PT Agro Nusa Abadi, PT Sawit Jaya Abadi, PT Kirana Sinar Gemilang, PT Kurnia Luwuk Sejati, PT Rimbunan Alam Sentosa, PT Langgeng Nusantara Makmur dan PT Bhayr Multi Morowali, Serta PT. Cipta Agro Sakti baru memperoleh izin lokasi.
Terdapat 3 perusahaan perkebunan sawit yang memiliki pabrik di Kabupaten Morowali Utara diantaranya : PT Agro Nusa Abadi (ANA), PT Indo Jaya Makmur, dan PT Sinergi Perkebunan Nusantara (SPN)/PTPN XIV.
“Kami menghimbau kepada Pemerintah Kabupaten Morowali Utara untuk tidak lagi memberikan perluasan izin penggunaan lahan kepada koorporasi khususnya perkebunan sawit dan aktifitas yang mengurangi daya dukung lingkungan lainnya. hal tersebut dilakukan untuk menghindari bencana ekologis kedepannya” kata Aldy Rizki Koordinator Advokasi & Kampanye KOMIU.
Berdasarkan rilies yang diperoleh Koran Trilogi, dari melalui Manager Kampanye Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Sulteng Jumat kemarin menyebutka, baru beberapa pekan lalu wilayah Kabupaten Morowali dikepung oleh banjir. Bencana banjir juga menerjang Kabupaten Morowali Utara yang mengakibatkan sejumlah desa di Kabupaten tersebut terendam banjir antara lain Desa Korowou, Kumpi, Beteleme, Ronta, Petumbea, Wawopada, Korompeli dan Pontangoa.
Berdasarkan data awal yang dihimpun dari tim WALHI di lapangan, banjir yang terjadi di Kabupaten Morowali Utara adalah akibat hujan deras yang menyebabkan beberapa sungai di Kabupaten ini meluap antara lain Sungai La, Sungai Pontangoa, Sungai Tambakako, Sungai Korosule dan Sungai Ronta.
Manager Kampanye WALHI Sulteng Stevandi menjelaskan bahwa, banjir yang terjadi di Kabupaten Morowali Utara, tidak hanya diakibatkan oleh hujan deras, melainkan masifnya perambahan hutan dan penerbitan izin perkebunan sawit serta pertambangan di Kabupaten tersebut.
