TERKINI
Update cepat: berita terbaru tersaji sepanjang hari.

SINYAL DARURAT KRISIS LINGKUNGAN

Manager Kampanye WALHI Sulteng, Stevandi

Alhasil lajunya penerbitan izin tersebut telah berkontrbusi terhadap lajunya deforestasi hutan sehingga menjadi faktor paling mempengaruhi terhadap bencana banjir yang terjadi disana. Menurut Stevandi saat ini jumlah perusahaan perkebunan sawit di Kabupaten Morowali Utara berjumlah adalah 14 perusahaan dengan luas aktivitas 42,218,378 Ha dan terdapat 6 perusahaan pertambangan yang saat ini beraktifitas di Kabupaten tersebut. Berdasakan  konsesi konsesi perkebunan sawit di Morowali Utara mencapai 70% dari luasan Areal Penggunaan Lain (APL).

Dikatakan masifnya eksploitasi Sumber Daya Alam berbasis lahan di Morowali Utara secara tidak langsung telah mengurangi daya dukung lingkungan dengan terjadinya deforestasi hutan. padahal semua tahu, hutan memiliki banyak manfaat bagi manusia. Selain untuk melepaskan oksigen, menangkap partikel bebas di udara, hutan juga memiliki fungsi hidrologis yang berperan sebagai penyimpan/ mengikat air kemudian mengatur peredarannya dalam bentuk mata air. Selain itu hutan memiliki manfaat klimatologis atau mengatur iklim.

“Dengan adanya hutan, maka kelembaban dan suhu udara bisa tetap stabil dan tetap terjaga serta mengurangi tingkat penguapan air dari dalam tanah. Sayangnya manfaat hutan yang begitu kaya ini, tidak pernah diperhatikan oleh pengambil kebijakan (Pemerintah Daerah).” katanya.   

Manager Kampanye WALHI Sulteng ini, menilai Kebijakan yang serampangan dalam penerbitan izin dan tanpa mempertimbangkan aspek lingkungan telah melahirkan banjir dimana-mana. Kita mau bilang, Pemerintah lalai dan bertanggung jawab atas banjir yang terjadi di Morowali Utara dan beberapa tempat di Sulawesi Tengah. Dalam kasus ini, kita bisa mengambil contoh misalnya di desa Ronta dan Petembuea. Kedua Desa ini berada di Kecamatan Lembo Raya dan saat ini juga merupakan desa terdampak dari meluapnya Sungai Ronta.

Dari data awal yang WALHI Sulteng dapatkan, di desa Petumbea, puluhan hektar sawah petani terendam banjir. Selain itu ternak warga juga ikut terseret oleh air. Di Desa Ronta, puluhan rumah terendam banjir dan mengharuskan warga untuk mengungsi ditempat-tempat aman. Tidak dapat dipungkiri, banjir yang menerjang desa Ronta dan Petumbea adalah akibat perambahan hutan secara masif dan makin diperparah dengan kehadiran PT. Cipta Agro Nusantara (Anak Perusahaan Astra Agro Lestari) diwilayah tersebut.

Stevandi menerangkan bahwa  lokasi aktivitas PT. CAN yang berada persis berbatasan dengan sungai Ronta telah menyebabkan air menerjang desa Petumbea dan Ronta. Ditambah lagi posisi desa Ronta dan Petumbea yang berada dalam posisi agak rendah sehingga tingkat kerawanannya cukup tinggi. Dia menambahkan, selain melakukan merambahan hutan, WALHI Sulteng menemukan fakta bahwa lokasi tanaman sawit PT. CAN yang hanya berjarak rata-rata 50 Meter dari sungai Ronta di duga kuat menjadi penyebab banjir karena tidak adanya lagi hutan (Pohon) yang berfungsi untuk mengikat air.

Beberapa fakta, kata Stevandi, banjir yang terjadi di Sulawesi Tengah beberapa bulan terakhir, (di Kabupaten Sigi, Morowali, Morowali Utara) harusnya menjadi pelajaran bagi Pemerintah Daerah untuk membatasi penerbitan izin-izin berbasis lahan serta mencabut izin-izin bermasalah di Sulawesi Tengah. Selain itu juga WALHI Sulteng mendesak Pemerintah Daerah untuk bertindak tegas terhadap aktifitas ilegal di kawasan hutan yang berpotensi melahirkan bencana dikemudian hari.

 “Sangat disayangkan untuk mengejar investasi didaerahnya Pemda tidak mempertimbangkan aspek lingkungan dan tatakelola”  kata Stevandi.

Penulis : Elkana L, Wahyudi / Koran Trilogi

Editor    : Wahyudi

Related posts:

Komentar
maks. 1000 karakter
    Jadilah yang pertama berkomentar.