“Karena ada didalam klausul kontraknya itu kalau ada hilang material didalam lokasi itu yang sudah diklaim oleh PT CNE kepada asuransi, maka akan dikenakan sanksi CNE, akan dilakukan pemotongan. Karena klaim itu sudah dibayarkan oleh pihak asuransi ke PT CNE. Misalkan sama dengan mobil tabrakan, kemudian kita klaim kepihak asuransi, rusak berat kan, pasti ketika kita diganti rugi itu mobil sama asuransi, dan tidak mungkin mobil itu jadi milik kita lagi. Begitu kira-kira gambaranya” tegasnya.

Bersamaan dengan proses bongkar, sambung Agus, pihaknya juga telah melakukan uji kekuatan struktur tanah (Sondir) untuk lokasi gedung baru MTP termasuk mengukur kedalaman air terdalam dibawah bangunan. Sekaligus melakukan uji geolistrik. Sebuah metoda eksplorasi geofisika untuk menyelidiki keadaan bawah permukaan dengan menggunakan sifat-sifat kelistrikan batuan. Sebab pembangunan ulang MTP nantinya akan diupayakan berkonstruksi tahan terhadap goncangan gempa.
“Sudah dilakukan penelitian AMDAL apa semua dalam proses termasuk juga tim ahli geologi yang melihat sekaligus bisa memprediksi bahwa sekalipun kekuatan gedung itu dengan kekuatan tujuh sampai Sembilan magnitude itu, tidak akan goyang. Itu desain kontruksi baru nantinya” ungkapnya.
Pembangunan kembali MTP ini kedepan, management PT CNE berupaya untuk membuka akses lapangan kerja bisa terbuka lebar untuk masyarakat Kota Palu dan sekitarnya khususnya bagi penyintas bencana. Selain itu juga pada rekrutmen karyawan nantinya, PT CNE juga akan memberikan pembekalan serta pelatihan, utamanya kepada tenaga kerja lokal.
“Kemudian juga kalau kedepan direksi PT CNE lebih akan meprioritaskan perekrutan tenaga kerja lokal untuk pemenuhan digedung baru ini, ini adalah upaya untuk mengurangi angka pengangguran pasca bencana. Kemudian sebelum masuk ke tahapan itu, akan diberikan pembekalan dan pelatihan untuk tenaga – tenaga kerja ini, termasuk hal-hal tehknis” tutup Agus Manggona ketika ditemui disalah satu kedai kopi di Palu, belum lama ini.
