Meskipun nantinya pihak Prabowo tetap memposisikan sebagai oposisi, ini tidak menjadi soal dan tidak mengapa, karena memang tetap dibutuhkan oposisi sebagai fungsi kontrol terhadap jalannya roda pemerintahan. Kedua, kabinetnya harus diisi oleh orang- orang yang visioner dan professional untuk mempersiapkan landasan menjadi Indonesia Hebat 2050.
Dalam beberapa kesempatan Jokowi selalu mengatakan akan mengisi kabinetnya dari kalangan partai dan non partai yang profesional serta dapat bertindak sebagai executor bila dipandang itu akan memberikan sebuah kemajuan. Dan yang tidak kalah menariknya adalah keberanian melibatkan generasi milenial untuk mengisi kabinetnya.
Pemikiran dan Pola rekruitmen inilah yang menjadi pembeda dari kabinet-kabinet sebelumnya. Ketiga, mempersiapkan Pilkada tahun 2020 dan 2022 agar melahirkan pemimpin-pemimpin daerah yang berorientasi kepada perubahan dan kemajuan.
Semangat ini harus terus dibangun dengan memberikan eduksi dan kesempatan kepada figur-figur perubahan serta menghilangkan unsur fanatisme yang cenderung menghambat kemajuan. Setidaknya ada enam kriteria figur perubahan yang menjadi kebutuhan yaitu mereka-mereka yang selalu update, adaptif, inovatif, tidak birokratis, demokratis dan memiliki ketegasan. Usia bukan lagi menjadi pembeda, tetapi terletak kepada karakter dan model berpikir.
Kereta Terakhir
Pilkada tahun 2020 dan 2022 adalah yang terakhir sebelum melaksanakan Pilpres dan Pilkada serentak tahun 2024. Karena itu, kedua pilkada ini memiliki nilai strategis untuk melahirkan pemimpin visioner dan professional di daerah. Kedua pilkada ini dapat dikatakan sebagai “kereta terakhir”, kesempatan terakhir menuju ke stasiun tujuan.
Bila kereta ini tidak ditumpangi, maka kesempatan untuk melahirkan pemimpin visioner dan professional tidak akan digapai. Harapan memanfaatkan potensi demografi 2028, potensi sumberdaya alam menuju Indonesia Hebat 2050 akan berlalu begitu saja, dan tinggal kenangan serta catatan sejarah. Kesempatan itu tidak akan datang untuk kedua kalinya dan menjadi kerugian besar bila tidak dimanfaatkan.
Ada tiga komponen penentu dalam melahirkan pemimpin perubahan di Pilkada 2020 dan 2022, yaitu partai yang memiliki hak usung, rakyat yang memiliki hak suara dan lembaga penyelenggara pilkada. Beberapa partai kini telah mereformasi dirinya menyesuaikan dengan tuntutan perubahan.
