Kader partai tidak lagi jadi perioritas harus diusung menjadi calon pemimpin daerah mewakili partainya, kesempatan telah dibuka bagi figur-figur diluar partai yang dipandang dapat membuat perubahan dan nantinya bisa membesarkan partai yang mengusungnya. Ini adalah sebuah perubahan bagi sebuah kemajuan dan patut diapresiasi.
Lembaga penyelenggara Pilkada dipandang sudah lebih baik dan professional dalam menjalankan tugas dan fungsinya, meskipun masih ada beberapa kelemahan di sana-sini yang masih perlu diperbaiki dan disempurnakan.
Dan yang terakhir adalah rakyat yang memiliki hak suara. Sejumlah kekuatiran kini masih menghantui untuk penyelenggaraan Pilkada 2020 dan 2022, yaitu dugaan masih dominannya politik transaksional atau money politic atas terpilihnya pasangan kepala daerah.
Politik Transaksional
Tantangan terbesar dalam Pilkada 2020 dan 2022 adalah praktek politik transaksional atau money politic. Data survey menunjukkan bahwa karena tingkat pendapatan perkapita rendah, maka money politic dapat mempengaruhi keputusan akan pilihannya.
Hal ini sejalan dengan referensi bahwa demokrasi akan berlangsung lebih baik bila pendapatan perkapita minimal mencapai 6.000 US dollar atau setara 84 juta rupiah/kapita/tahun, Sementara, pendapatan per kapita di negeri ini baru sekitar 3.900 US dollar atau setara 54 juta rupiah.
Seharusnya referensi ini tidak boleh lagi jadi pembenaran untuk terus berlarut. Segenap anak bangsa harus bangkit dan membangun idealismenya untuk secara perlahan mengikis praktek-praktek transaksional. Penyelenggara pilkada lebih professional melaksanakan tugas dan fungsinya, sehingga harapan menghasilkan sejumlah pemimpin perubahan di daerah dapat direalisasi.
Harapannya kemudian pemimpin-pemimpin perubahan akan membawa negeri ini mempunyai pendapatan di atas 6.000 US dollar, bahkan PricewaterhouseCooper, PwC memprediksi di tahun 2050 pendapatan per kapita rakyat Indonesia dapat mencapai 31.000 US dollar. Ini adalah sebuah kesempatan terakhir, kereta terakhir untuk landasan menuju Indonesia Hebat 2050. Semoga ***
