“Kami akan melakukan pengecekan ulang terhadap beton yang cacat dan besi yang tidak seragam, meskipun pada dasarnya jumlah besi yang terpasang sudah sesuai dengan gambar rencana,” ujar Haryadi.
Ia menambahkan bahwa besi beton yang tampak adalah bagian dari CCSP yang tertanam sampai kepala CCSP (tertanam penuh). Besi beton ini berfungsi sebagai penguat kepala CCSP saat dipukul dengan hammer, dan sebagian besi terbuang saat pembobokan Capping Beam.
Dengan berbagai kendala yang ada, Haryadi memastikan bahwa pihaknya terus memantau dan melakukan evaluasi untuk memastikan proyek dapat diselesaikan sesuai standar kualitas dan waktu yang telah diperpanjang.
Proyek perbaikan Sungai di kawasan Kota Palu yang bertujuan untuk menanggulangi bencana tsunami dan meminimalisasi dampak banjir, kini berada di tengah-tengah persimpangan. Rencana besar yang semula diproyeksikan berjalan lancar kini justru tersandung berbagai masalah teknis dan manajerial.
Hasil riset tim Konsorsium media Sulawesi Tengah mengungkapkan bagaimana proyek raksasa ini dihadapkan pada berbagai tantangan di lapangan.
Sejak dikeluarkannya Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK) pada Mei 2023, proyek ini direncanakan selesai dalam 540 hari kalender, dengan tenggat hingga Oktober 2024.
Namun, seiring berjalannya waktu, proyek yang melibatkan perbaikan Sungai Palu, Kawatuna, dan Sungai Ngia ini kini harus berhadapan dengan kenyataan yang lebih rumit dari sekadar waktu yang ditentukan.
Proyek yang akan dilanjutkan dengan masa pemeliharaan selama 365 hari itu mencakup sejumlah pekerjaan strategis yang vital bagi perlindungan kawasan dari bencana alam.
Rincian Pekerjaan di Sungai Palu
- Coastal Dike (Concrete Sheet Pile) : Dua unit dike beton sepanjang 500 meter dengan ketinggian masing-masing 5 meter akan menjadi benteng utama untuk menjaga kawasan Palu dari hantaman air laut. Struktur ini diharapkan bisa memperkuat garis pantai dan mengantisipasi potensi gelombang besar.
- River Dike Work (Concrete Sheet Pile) : Dua unit dike sungai setinggi 4 meter dan sepanjang 500 meter juga dibangun untuk menahan arus sungai yang bisa menyebabkan banjir pada musim hujan. Pengerjaan river dike ini diharapkan bisa menjadi penopang utama dalam mitigasi banjir di kawasan hilir sungai Palu.
- Pengerukan Dasar Sungai (Dredging) : Tak kalah penting, proyek ini juga meliputi pengerukan dasar sedimen sungai sepanjang 2.480 meter dengan panjang pengerukan 1.000 meter. Pengerukan ini bertujuan untuk memperdalam aliran sungai dan mengurangi risiko pendangkalan yang bisa memperparah banjir.
Pekerjaan di Sungai Ngia
- Consolidation Dam : Di Sungai Ngia, tiga unit bendungan konsolidasi direncanakan untuk dibangun, masing-masing dengan ukuran dan kapasitas yang berbeda. CD 1 memiliki tinggi 4,5 meter dengan panjang 27,7 meter, sementara CD 2 setinggi 3,5 meter dan panjang 19 meter, serta CD 3 dengan tinggi 3,5 meter dan panjang 26 meter. Ketiga bendungan ini diharapkan dapat mengontrol debit air dan mengurangi dampak aliran deras yang sering memicu banjir lokal.
Penanganan di Sungai Kawatuna
- Consolidation Dam : Dua unit bendungan besar lainnya juga akan dibangun di Sungai Kawatuna. CD 1 dengan tinggi 5 meter dan panjang 49,3 meter, sementara CD 2 berdiri setinggi 7 meter dan sepanjang 57,6 meter. Pekerjaan ini dirancang untuk menjaga stabilitas aliran air di kawasan hulu dan hilir sungai.
Pekerjaan Revetment dan Groundsill
- Revetment Work : Untuk memperkuat dinding sungai, dua unit revetment (penguatan lereng) setinggi 4,7 meter dengan panjang 125 meter, dan satu unit setinggi 2,5 meter dengan panjang 1.182 meter menggunakan Beton Siklop K 175, juga akan dibangun. Struktur ini ditujukan untuk menahan erosi dan memperkuat tebing sungai yang kerap longsor.
- Groundsill (Ambang Batas) : Sebanyak enam unit groundsill dengan tipe 1, tinggi 2 meter, dan panjang 17,7 meter akan ditambahkan untuk mengatur aliran air dan mengurangi efek erosi dasar sungai.
Namun, berbagai kendala teknis yang muncul di lapangan,mulai dari sisa-sisa bangunan lama yang tertanam di alur proyek hingga kesulitan teknis dalam pemancangan Concrete Sheet Pile, telah membuat proyek ini menjadi semakin kompleks.
Meski rencana besar ini dirancang untuk melindungi ribuan warga dari ancaman bencana, tantangan di lapangan membuat perjalanan menuju penyelesaian proyek semakin penuh liku.
