Pecah aspal tersebut diduga disebabkan adanya momen yang terjadi dalam pasangan, sehingga merusak permukaan. Dalam bentangan aspal, dipenuhi rongga-rongga disinyalir akibat tidak

dilakukannya perataan sebelum memasukan pencampuran aspal. Lalu, longsoran cutingan dibiarkan begitu saja pada ruas ini, sehingga dinilai dapat merusak badan jalan, pasangan mortar dan mengganggu arus lalu lintas pada STA + 0.700.
Selain itu, adanya lubang, retak kasar pada permukaan aspal diduga disebabkan kurangnya kadar aspal dan material mengandung lumpur di area tersebut. Keganjilan berikutnya ialah terjadinya California Bearing Ratio (CBR), yaitu kepadatan pada best cost, karena saluran pembuangan air tidak tersedia dan terjadi campuran yang tidak homogeny pada STA + 9,200.
Sedangkan pada item pekerjaan lapis resap pengikat primecoat, diduga terlalu banyak kandungan minyak tanah pada STA + 14 200. Dan yang lebih mencengangkan, pada AMP kegiatan dilaksanakan pihak kontraktor, khusus pada material abu batu dan pasir, terdapat kandungan lumpur tinggi yang lolos saringan 200 padahal standart spesifikasi Bina Marga maximal 8 persen, lolos pada agregat halus dan 1 persen dinyatakan lolos 200 pada agregat kasar.
